Ahad, 30 September 2018

Renungan Petang  Ahad, 30 September 2018


Renungan Petang
Ahad, 30 September 2018

Hai Warga Alam, Bersyukurlah

Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada TUHAN, dan untuk menyanyikan mazmur bagi nama-Mu, ya Yang Mahatinggi,… Sebab telah Kau buat aku bersukacita, ya TUHAN, dengan pekerjaan-Mu” Mazmur 92:2-5

Apakah anda menyedari bahawa memuji Tuhan adalah hak istimewa? Ramai orang tidak menyedari keberadaan Tuhan. Berapa ramai yang belum pernah mendengar tentang Dia, sementara yang lain memilih untuk tidak memercayai-Nya. Jadi bila anda mendengar dan memilih untuk percaya, adalah suatu keistimewaan dan kehormatan untuk mengangkat jiwa dalam suara pujian dan penyembahan yang sepenuh hati kepada Pencipta.

Warga alam tidak pernah diam memuji Allah. Jadi ketika guntur bergemuruh atau laut bergelora, ketika percikan hujan atau angin lembut menggoyang daun, ketika burung berkicau atau tupai bersuara, ketika katak bersuara atau anjing laut menggonggong, saya suka berfikir semuanya itu sebagai pujian kepada Tuhan. Berapa seringkah anda dalam keheningan ketika anda berada di alam ini, dapat mendengar suara memujiNya?

Jadi, lebih bermakna dan berharga bagi Tuhan, apabila penggunaan karuniaNya iaitu, maksud hati, suara, dan lidah digunakan mengekspresikan rasa bersyukur kita kepadaNya kerana kehidupan dan pujian yang tulus kepadaNya. Cuba renungkan, dari semua ciptaan, kitalah satu-satunya spesies yang memiliki saraf otak untuk merenungkan dan memikirkan Pencipta kita. Tetapi lebih daripada itu, kita memiliki kemampuan untuk menggunakan kata-kata yang bermakna dan frasa bijaksana yang mengekspresikan kegembiraan hati kita.

Dengan teladan dan inspirasi dari Daud, kita dapat “memberitakan kasih setiaMu di waktu pagi dan kesetiaanMu di waktu malam” (Mzm. 92:3). Kita dapat menggunakan semua jenis alat muzik untuk menunjukkan pujian kita. “Sebab telah Kaubuat aku bersukacita, ya Tuhan, dengan pekerjaanMu, karena perbuatan tanganMu aku akan bersorak-sorai. Betapa besarnya pekerjaan-pekerjaanMu ya Tuhan, dan sangat dalamnya rancangan-rancanganMu”(ayat 5,6).


Marilah memikirkannya, Allah menggunakan semua nyanyian alam untuk mendapatkan perhatian kita “supaya segala bangsa di bumi tahu, bahwa Tuhanlah Allah, dan tidak ada yang lain” (1 Raja-raja 8:60). Kiranya Tuhan memberkati!

Sabtu, 29 September 2018

Renungan Petang Sabat, 29 September 2018


Renungan Petang
Sabat, 29 September 2018

Bumi Yang Bergolak

Maka aku melihat, ketika Anak Domba itu membuka meterai yang keenam, sesungguhnya terjadilah gempa bumi yang dahsyat. Wahyu 6:12.
Bukan hanya nubuatan meramalkan cara dan bagaimana kedatangan Kristus, tetapi juga menyajikan tanda-tanda yang harus diketahui oleh setiap orang akan waktuNya sudah dekat. Demikianlah pewahyu itu menggambarkan yang pertama dari antara tanda-tanda untuk mendahului kedatangan Yesus yang kedua itu: “Terjadilah gempa bumi yang dahsyat; dan matahari menjadi hitam bagaikan karung rambut, dan bulan menjadi merah seluruhnya bagaikan darah.”

Tanda-tanda tersebut telah disaksikan sebelum permulaan abad ke-19. Dalam penggenapan nubuatan ini, dalam tahun 1755, gempa bumi yang sangat mengerikan yang pernah terjadi sepanjang sejarah manusia. Walaupun secara umumnya hanya dikenali sebagai gempa Lisbon, tetapi itu tersebar lebih luas ke benua Eropah, Afrika, dan Amerika. Gempa itu dapat dirasakan di Greenland, Hindia Barat, pulau Madeira, Norwegia dan Swedia, Inggris Raya dan Irlandia.

Gempa itu meliputi tidak kurang daripada empat juta mil persegi. Di benua Afrika kekuatan gegarannya hampir sama dahysatnya dengan di Eropah. Sebahagian besar wilayah Aljazair hancur; dan sebuah kampung yang jaraknya dekat dari Maroko, yang berpenghuni sekitar lapan atau sepuluh ribu penduduk telah ditelan bumi. Tsunami menyapu pantai di Spanyol dan Afrika, menelan kota-kota, dan menyebabkan kerosakan besar.

Di Sepanyol dan Portugal gempa bumi telah menyebabkan kerosakan yang amat luar biasa. Di kota pelabuhan Cadiz, tsunami atau ombak besar dilaporkan setinggi enampuluh kaki. Gunung-gunung, “sebahagian yang terbesar di Portugal, tergoncang secara mendadak dari dasar-dasarnya.”……--Sir Charles Lyell, Principles of Geology, p. 495…… “Gempa bumi itu terjadi pada hari yang kudus, ketika gereja-gereja dan pertemuan-pertemuan dipenuhi oleh ramai orang yang mana tidak dapat melarikan diri.” –Encyclopedia Americana, art. “Lisbon,” note (ed. 1831)….. Dikatakan sembilan puluh ribu terkorban pada hari kejadian itu.

Betapa seringnya kita mendengar kejadian gempa bumi dan ribut taufan, kerosakan disebabkan oleh kebakaran dan banjir, mengakibatkan kehilangan nyawa dan harta benda. Kelihatannya bencana-bencana ini merupakan wabah yang berubah-ubah dari kekuatan-kekuatan alam yang tidak terkata dan tidak dapat dikawal oleh manusia. Namun di dalam semuanya itu, tujuan Allah dapat dibaca, Tuhan ingin menyedarkan kita. Kita harus bersedia pada kedatanganNya. Agen-agen Tuhan berusaha membangunkan laki-laki dan perempuan untuk menyedarkan mereka dari bahaya.


Teruskan bertekun di dalam doa. Bersandarlah kepadaNya setiap masa. Tuhan memberkati!

Jumaat, 28 September 2018

Renungan Petang Jumaat, 28 September 2018


Renungan Petang
Jumaat, 28 September 2018

Orang Kristen Harus Bijaksana

"Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." Mazmur 90:12

Menjadi orang yang berjaya, mempunyai kedudukan tinggi, pintar, terkenal dan kaya raya adalah impian semua orang. Inilah kehidupan orang dunia, di mana setiap individu selalu menilai orang lain berdasarkan apa yang kelihatan secara kasar mata. Hanya sedikit orang yang mempunyai kerinduan untuk menjadi orang yang bijaksana.

Namun Alkitab mengatakan demikian, "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?" (Matius 16:26). Tuhan menghendaki setiap kita memiliki hati yang bijak, menjadi peribadi-peribadi yang bijaksana. Bijaksana biasanya tidak berkaitan dengan kecerdasan atau kepintaran seseorang. Ramai orang yang cerdas dan berpendidikan tinggi hidup secara tidak bijaksana. 

Itulah sebabnya firman Tuhan memberi peringatan,  "Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan;" (Amsal 3:7). Untuk menjadi orang yang bijaksana tiada jalan lain selain percaya kepada Tuhan, menyediakan banyak waktu untuk bersama denganNya dan merenungkan firmanNya. Semakin kita melakukan perintah Tuhan semakin kita dibentuk menjadi peribadi yang bijak.

Inilah yang dirasakan Daud, "Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari. Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku. Aku lebih berakal budi dari pada semua pengajarku, sebab peringatan-peringatan-Mu kurenungkan. Aku lebih mengerti dari pada orang-orang tua, sebab aku memegang titah-titah-Mu." (Mazmur 119:97-100).


Bangsa Israel ditegur tegas oleh Tuhan kerana mereka melupakan ajaranNya, "...hai bangsa yang bebal dan tidak bijaksana?" (Ulangan 32:6). Langkah permulaan menjadi orang Kristen yang bijak adalah merenungkan dan melakukan fimanNya siang dan malam. Sudahkah kita melakukannya setiap hari? Kiranya Tuhan memberkati!

Khamis, 27 September 2018

Renungan Petang Khamis, 27 September 2018


Renungan Petang
Khamis, 27 September 2018

Menjadi Saksi Seperti Cahaya Yang Menerangi

"ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya." Yohanes 1:7

Sebagai orang percaya, di dalam kita ada terang Yesus yang harus terpancar. Tugas kita adalah bercahaya di tengah dunia yang diliputi kegelapan. Inilah panggilan hidup kita. "Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya." (Yohanes 1:5). Sementara ketika berada di tengah-tengah dunia yang gelap dengan kehidupan kita juga di dalam kegelapan, maka turut terlibat dalam perbuatan-perbuatan gelap. Kita harus bercahaya di kalangan mereka yang dalam kegelapan.

Firman Tuhan menegaskan, "...sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang," (Efesus 5:8). Sebagai anak-anak terang tidak seharusnya kita berkompromi dengan kegelapan dunia ini. Sebaliknya kehidupan kita harus bercahaya sehingga orang-orang di luar Tuhan dapat melihatnya kerana kita memiliki kehidupan yang berbeza. Jadi, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini," (Roma 12:2).

Tugas kita adalah sebagai terang kepada dunia bermaksud kita harus menjadi saksi Kristus yang adalah Terang sejati. Sebagai saksi Kristus, kita tidak berhak mendapatkan pujian dan hormat dari manusia melebihi Terang Kristus yang kita jadikan subjek kesaksian kita. Jadi Tuhan Yesus haruslah menjadi yang terutama di dalam hidup ini, "Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil."  (Yohanes 3:30). 

Tujuan kita bersaksi adalah membawa orang lain kepada terang sejati, maksudnya membuat orang lain menjadi percaya kepada Tuhan Yesus. Terang Tuhan bercahaya di tengah-tengah dunia sehingga dunia mempermuliakan Tuhan Yesus Sang Terang Sejati itu. Bagaimana kita dapat menerangi dunia ini dengan terang Kristus? Melalui perbuatan dan tindakan kita yang menjadi berkat dan kesaksian yang baik bagi orang lain!

"...supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia," Filipi 2:15. Tuhan memberkati!

.

Rabu, 26 September 2018

Renungan Petang Rabu, 26 September 2018


Renungan Petang
Rabu, 26 September 2018

Menjadi Terang Kepada Kegelapan

"Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." Yohanes 8:12

Cuba bayangkan bila dunia ini gelap gulita, tanpa cahaya sedikit pun. Pasti tidak akan ada kehidupan kerana manusia tidak dapat melakukan apa-apa, dan tidak ada makhluk yang dapat hidup. Oleh itu berfirmanlah Tuhan, "Jadilah terang. Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahawa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam." (Kejadian 1:3-5).

Tuhan pun melengkapi dengan benda-benda langit seperti matahari, bulan dan bintang.  Dengan adanya terang, makhluk hidup dapat bertumbuh dan ada kehidupan, manusia pun dapat melakukan aktivitinya.  Sungguh, semua orang memerlukan terang atau cahaya. Memang, kita memiliki mata yang berfungsi untuk melihat tetapi apabila tidak ada terang atau cahaya, mata kita tidak dapat berfungsi untuk melihat.

Saat ini dunia masih diliputi oleh kegelapan rohani kerana dunia telah dipenuhi oleh segala macam kejahatan dan dosa. Akibatnya ramai orang yang mata rohaninya menjadi buta sehingga mereka tidak dapat melihat kebenaran. Kegelapan inilah yang membawa manusia kepada kematian kekal. Itulah sebabnya dunia sangat memerlukan terang sejati.

Adapun terang sejati itu adalah Tuhan Yesus kristus, "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup."  (ayat kunci).

Dua ribu tahun silam Yesus menyinari dunia ini dengan terangNya yang ajaib. Seluruh waktu, tenaga dan hidupnya Dia curahkan untuk melayani jiwa-jiwa dengan penuh kasih dengan mengajar, menyembuhkan orang sakit dan menghidupkan semula orang mati. Bukan hanya itu, Dia juga rela menyerahkan nyawaNya, mati di atas Kalvari untuk menebus dosa seluruh umat manusia.

Kini Tuhan Yesus menyerahkan tanggungjawab itu kepada kita sebagai anak-anakNya. Cahaya dalam perjalanan untuk meneruskan tugasNya menyinari dunia ini dengan terang Syurgawi. Tuhan Yesus berkata, "Kamu adalah terang dunia. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:14, 16).

Tuhan Yesus adalah Terang Sejati bagi dunia. Kita adalah saksi-saksi bagi Tuhan. Tuhan memberkati!

Selasa, 25 September 2018

Sumber rujukan dari Buku Tulisan Ellen G White


Renungan Petang
Selasa 25 September 2018

Berhati-hatilah Dengan Penyembuhan Di Akhir Zaman

"Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya." 1 Petrus 5:8.

Kegiatan Iblis sekarang sedang dilipatgandakan, dan pada masa yang sama mereka yang menyimpang dari jalan kebenaran akan kehilangan ikatan mereka. Oleh karena tidak memiliki apa-apa untuk berpaut kepada Tuhan, mereka akan melayang dari satu khayalan ke khayalan yang lain, dihembus oleh berbagai angin-angin doktrin yang lain. Setan telah tampil dengan kuasa besarnya. Ramai orang akan tertipu oleh mukjizat-mukjizatnya.

Orang percaya harus berwaspada setiap masa. Hendaklah di antara umat Allah sentiasa arif dan aktif dalam kerohanian. Roh-roh jahat begitu aktif dan lebih berusaha untuk mengawal fikiran manusia. Ramai orang yang melawan Tuhan seperti kayu api dibakar oleh api di akhir zaman kelak. Mereka yang membuang Kristus dan kebenaranNya akan tersesat dan membanjiri dunia yang hidup dalam kegelapan.

Orang-orang percaya haruslah tenang dan berwaspada, dengan gigih menolak musuh mereka iaitu, setan. Iblis sedang berjalan disekeliling seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Orang-orang yang berada di bawah pengaruh roh-roh jahat akan melakukan keajaiban-keajaiban, mengadakan mukjizat-mukjizat penyembuhan.

Iblis akan membuat orang-orang menjadi sakit. Dan kemudian secara tiba-tiba ada kuasa yang boleh menyembuhkan penyakitnya. Lalu mereka akan dianggap telah disembuhkan. Siapakah yang menyembuhkan? Apakah berasal dari kuasa Tuhan? Lihatlah bagaimana dia hidup dihadapan Tuhan. Pekerjaan-pekerjaan penyembuhan palsu ini akan menguji orang-orang Advent.

Jika orang-orang yang melalui penyembuhan-penyembuhan yang dilakukan, berkompromi dengan hukum Allah, dan terus berada dalam ketidaktaatannya, walaupun mereka memiliki kekuatan yang luar biasa, maka hal itu tidak bermakna mereka memiliki kuasa besar dari Allah. Sebaliknya, itu adalah kuasa mukjizat yang bekerja untuk si penipu besar itu.

Iblis mengerahkan manusia sebagai alatnya yang boleh dia kuasai untuk membutakan ramai orang dari tabiatnya yang sebenar. Kita harus menyedarinya bahawa di akhir zaman ini Iblis akan bekerja dengan tanda-tanda dan keajaiban-keajaiban yang menyesatkan. Dan Iblis akan meneruskan keajaiban-keajaiban ini sehingga penutupan pintu kasihan, sehingga dia kononnya dapat membuktikan bahawa dia adalah malaikat terang dan bukan malaikat kegelapan.


Sedarlah akan kuasa Tuhan, Ibils tidak pernah mampu menentang Kuasa Tuhan walaupun mungkin ramai kelompok manusia yang terjerat dengan perangkapnya. Hai umat percaya, berjaga dan berdoalah setiap masa. Tuhan sentiasa memberkati Anda!

Ahad, 23 September 2018

Dirujuk Dari Buku Tulisan Ellen G. White


Renungan Petang
Isnin, 24 September 2018

Allah Sedang Menyaksikan

Kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia. 1 Korintus 4:9.

Dunia ini adalah sebuah pentas pertunjukan para aktor, para penghuninya, yang sedang bersedia untuk memainkan peranan mereka dalam drama besar yang terakhir. Dalam sejumlah besar kumpulan manusia tidak ada kesatuan, kecuali bila orang-orang berkerjasama untuk menyelesaikan tujuan-tujuan mereka yang bersifat ego. Allah sedang menyaksikan gelagat manusia. Tujuan-tujuanNya mengenai para pendurhakaNya akan digenapi. Dunia ini belum diserahkan ke dalam tangan manusia walaupun Allah sedang membiarkan elemen-elemen kebingungan dan kekacauan bermaharajalela untuk sementara.

Sebuah kekuatan  sedang bekerja untuk menampilkan pertunjukan besar yang terakhir dalam drama itu. Setan datang seakan-akan seperti Kristus, dan bekerja dengan semua yang dapat disesatkan dari ketidakbenaran dalam diri orang-orang yang mengikatkan diri mereka sendiri secara bersama-sama dalam perkumpulan-perkumpulan masyarakat yang bersifat rahasia. Mereka yang menyerah pada hasrat untuk kerjasama itu sedang melakukan rancangan-rancangan jahat.

Pelanggaran hukum sudah hampir mencapai hadnya. Kebingungan memenuhi dunia ini, dan sebuah pembunuhan besar-besar akan segera datang menimpa semua manusia. Akhir zaman itu sangat dekat. Kita yang mengetahui kebenaran haruslah sentiasa bersedia untuk apa yang akan menimpa dunia ini seperti sebuah kejutan yang luar biasa. Seperti sebuah kejutan di hari lahir kamu. Bersedia dengan sebarang kemungkinan.

Apakah kita sebagai sebuah umat percaya sedang tertidur? Jika para belia kita yang saat ini tidak bersedia untuk kedatangan Tuhan, mereka tidak layak menjadi anggota-anggota keluarga Tuhan kelak nanti.  Betapa pentingnya sebuah perubahan terihat dalam diri mereka. Tuhan Yesus sedang memanggil para pekerja yang menyangkal diri sendiri untuk mengikuti jejakNya, untuk berjalan dan bekerja untuk Dia, untuk memikul salib, dan mengikuti ke mana Dia memimpin jalan.

Ramai orang percaya merasa puas dan bosan mempersembahkan kehidupan mereka kepada Tuhan dengan tindakan-tindakan yang sambil lewa. Kekristenan mereka begitu lemah. Kristus memberikan diriNya sendiri bagi para pendosa. Haruslah dengan percaya demi penyelamatan jiwa-jiwa sebagaimana kita melihat umat manusia sedang binasa di dalam dosa. Jiwa-jiwa ini sudah dibeli dengan harga yang tidak terkira. Kematian Anak Allah di salib Kalvari adalah ukuran dari harga mereka. Hari demi hari kita harus memutuskan apakah kita akan memiliki hidup yang abadi atau kematian yang kekal.


Milikilah sebuah kehidupan yang benar dengan tindakan yang percaya kepadaNya. Kiranya Tuhan memberkati!


Dirujuk Dari Buku Tulisan Ellen G. White


Renungan Petang
Ahad, 23 September 2018

Setiap Perbuatan Ada Upahnya

Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan. Pengkotbah 11:9.

Iblis adalah pemberontak pertama di jagat raya ini, dan sejak dari surga Iblis telah berusaha untuk membuat setiap anggota keluarga manusia menjadi murtad dari Allah. Menginginkan manusia seperti dirinya sendiri. Ia membentangkan rancangan-rancangannya untuk menghancurkan manusia. Melalui kesenangan yang tidak teratur akan selera, ia memimpin manusia untuk melanggar hukum-hukum Allah.

Iblis menggoda Adam dan Hawa untuk mengambil buah larangan itu. Sekaligus menyempurnakan kejatuhan mereka serta pengusiran mereka dari Eden. Betapa ramainya orang mengatakan, “Seandainya saya menjadi Adam, saya tidak akan pernah melanggar hukum dalam suatu ujian yang semudah itu.” Tetapi kesetiaan manusia akan teruji ketika menghadapi ujian sebenar. Apakah anda berpendapat bahawa Allah tidak melihat dosa dalam hidup kita?

Di setiap sudut, Iblis berusaha untuk memikat kita kepada jalan kebinasaan. Jika Iblis berjaya sekali sahaja membawa kita ke jalan itu, maka ia terus mencari kelemahan kita. Kemudian kita kehilangan kecenderungan kesedaran, dan tidak lagi memiliki rasa takut akan Allah di mata mereka.

Mereka kurang melakukan pengawalan diri. Mereka menjadi ketagihan kepada penggunaan alkohol dan rokok. Mereka adalah budak nafsu makanan. Nasihat yang telah mereka junjung tinggi, menjadikan mereka benci. Mereka menyombongkan diri, dan bermegah akan kebebasan walhal mereka adalah hamba-hamba dosa dari kekotoran.


Iblis ingin memiliki umat manusia sebagai penurut-penurutnya, tetapi Kristus telah membayar dengan harga yang tidak terkira sehingga manusia dapat ditebus dari musuh. Orang-orang yang telah jatuh boleh menemukan jalan hanya kepada Bapa, boleh memiliki karunia untuk memampukan mereka menjadi para pemenang melalui jasa-jasa Sang Juruselamat yang telah disalibkan dan bangkit. Kiranyz Tuhan memberkati!

Sabtu, 22 September 2018

Dirujuk Dari Buku Tulisan Ellen G. White


Renungan Petang
Sabat, 22 September 2018

Sang Iblis Akan Terus Berusaha

Malaikat Tuhan berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka. Mazmur 34:7.

Kekuatan dan kedengkian Iblis beserta seluruh pengikutnya memberi peringatan kepada kita agar kita dapat menemukan tempat perlindungan dan kelepasan dalam kuasa yang lebih unggul iaitu, Sang Penebus kita. Kita dengan  berhati-hati mengunci rumah untuk melindungi kekayaan dan kehidupan kita dari orang-orang yang jahat tetapi kita terlupa berfikir tentang malaikat-malaikat jahat yang terus-menerus mencari jalan masuk kepada kita dan menyerang kita. Jika diizinkan, maka mereka dapat mengalihkan fikiran kita, mengacau dan membuat tubuh kita sengsara, menghancurkan harta dan hidup kita.

Kegembiraan Sang Iblis hanyalah membuat kita berada dalam kesengsaraan dan kehancuran. Adalah mengerikan keadaan mereka yang mempertahankan tuntutan ilahi namun menyerah kepada godaan-godaan Iblis, hingga akhirnya Allah menyerahkan mereka kepada roh-roh jahat. Tetapi mereka yang mengikuti Kristus selalu aman di bawah pimpinan-Nya. Malaikat-malaikat yang hebat dalam kekuatan diutus dari surga untuk melindungi mereka. Si jahat itu tidak dapat menembusi kubu perlidungan yang Allah sediakan bagi umatNya yang percaya.

Pertentangan besar antara Kristus dan Iblis, yang telah berlangsung selama hampir enam ribu tahun, akan segera berakhir. Dan si jahat itu kini melipatgandakan usaha-usahanya untuk mengalahkan pekerjaan Kristus atas nama kepentingan manusia dan mengikat jiwa-jiwa ke dalam perangkapnya. Untuk mempertahankan umat di dalam kegelapan dan kedurhakaan sampai selesainya pengantaraan Kristus, dan tak ada lagi korban bagi dosa, adalah sasaran yang mahu dicapainya.

Bilamana tidak ada usaha khusus yang dibuat oleh manusia untuk menahan kekuatannya, bilamana sikap acuh tak acuh bermaharajalela di dalam gereja dan dunia ini, maka Setan begitu tenang sebab ia tidak lagi berada dalam bahaya akan kehilangan mereka yang telah ia pimpin ke dalam kehendaknya. Tetapi bilamana perhatian diarahkan kepada perkara-perkara yang abadi, dan jiwa-jiwa sedang menyelidiki firman Tuhan, maka Sang Iblis pun muncul, berusaha untuk menyamakan kekuatannya melawan kuasa Kristus di dalam diri kita.


Ingat! Sang Iblis mengawasi mereka yang percaya ketika orang-orang berkumpul untuk penyembahan Allah. Walaupun tersembunyi dari penglihatan kita, Iblis sedang bekerja dengan segala ketekunannya untuk mengalihkan fikiran para penyembah Allah itu. Bertekunlah di dalam Dia, maka kita akan kekal menjadi pemenang! Tuhan memberkati Anda!

Jumaat, 21 September 2018

Renungan Petang, Jumaat 21 September 2018


Renungan Petang
Jumaat 21 September 2018

Allah Akan Memimpin UmatNya

Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau. Yesaya 43:2.

Allah mempunyai sebuah gereja di muka bumi ini iaitu, umat pilihanNya, yang memelihara perintah-perintahNya. Dia sedang memimpin, bukan terbahagi-bahagi kepada banyak kumpulan iaitu, seorang di sini dan seorang di sana, tetapi setiap umat.

Jangan ragu-ragu dan takut bahawa pekerjaan ini tidak akan berjaya. Allah adalah pemimpin pekerjaan ini, dan Dia akan mengatur segala-galanya. Jika perkara-perkara memerlukan penyesuaian di akhir pekerjaan, Allah akan memperhatikannya dan bekerja untuk membetulkan setiap kesalahan. Marilah kita beriman bahawa Allah akan membawa kapal yang mulia itu, yang membawa umat Allah, dengan selamat ke pelabuhan.

Sebuah kapal berlayar dari Portland, Maine, ke Boston, suatu ketika dahulu, sebuah badai melanda dan ombak besar mengombang-ambingkan kapal tersebut. Lampu-lampu berjatuhan dan tangkai-tangkainya berguling ke sana ke mari seperti bola. Para penumpang ketakutan dan ramai yang menjerit, hanya menunggu ajal maut menjemput.

Setelah beberapa ketika kemudian, nakhoda datang ke atas kapal. Kapten kapal berdiri di samping nakhoda itu ketika sang nakhoda mengendalikan roda kemudi, dan mengungkapkan ketakutannya. “Mahukah Anda mengendalikan kemudi ini?” tanya nakhoda itu. Sang kapten belum bersedia untuk melakukan tugasan itu sebab dia tahu bahawa dia kurang berpengalaman.

Kemudian beberapa penumpang merasa gelisah dan mengatakan bahawa mereka takut kalau nakhoda itu akan menghempaskan mereka pada batu. “Mahukah Anda mengambil kemudi ini?” tanya sang nakhoda; tetapi mereka tahu bahawa sang kapten tidak dapat mengendalikan kemudi itu.

Bayangkan jika anda berada di atas kapal ini, bilamana anda merasa bahawa pekerjaan ini berada di dalam bahaya, berdoalah, “Tuhan, berdirilah pada kemudi. Bawalah kami melalui kebingungan ini. Bawalah kami dengan selamat menuju ke pelabuhan.” Apakah kita mempunyai alasan untuk tidak percaya bahawa Tuhan akan membawa kita keluar dari situasi itu dengan kemenangan?

Anda dan saya tidak dapat memahami pekerjaan dari segala takdir Allah dengan pemikiran kita yang terhad. Biarlah Allah menangani pekerjaanNya sendiri. Berdoalah...


Tuhan memberkati Anda!


Rabu, 19 September 2018

Renungan Petang, Khamis 20 September 2018



Renungan Petang
Khamis 20 September 2018

Menolak Undangan Kerana Keluarga

Yang lain lagi berkata: "Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang" Lukas 14:20

Menolak undangan kerana keluarga. Aku mengurus anak-anak atau "aku baru kawin, karena itu aku tidak dapat datang" (Lukas 14:20). Sungguh, keluarga adalah orang-orang yang sangat kita kasihi. Suami, isteri dan anak-anak adalah sebahagian kehidupan kita. Bersama mereka kita menjalani hari-hari suka mahupun duka. Mereka sungguh sangat bererti. Tanpa sokongan mereka kita tidak akan mampu meraih semua harapan dan keinginan. 

Walau bagaimanapun kita harus tetap menempatkan Tuhan sebagai segala-galanya bagi kita. Seringkali keinginan menyenangkan suami, isteri atau anak-anak melebihi ketaatan dan kasih kita kepada Tuhan. "Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku." (Matius 10:37-38).


Utamakan Tuhan lebih dari apa pun yang ada di dunia ini agar kehidupan kita berkenan kepada-Nya!

Renungan Petang, Rabu September 2018



Renungan Petang
Rabu 19 September 2018

Menolak Undangan Kerana Pekerjaan

"Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku." Matius 10:38

Perhatikan ini: "Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya;" (Lukas 14:19). Ini berkaitan dengan pekerjaan, kerier atau perniagaan. Seringkali kerana kesibukan kita dalam bekerja, berkerier dan berniaga kita tidak mempunyai masa untuk berdoa dan merenungkan firman Tuhan, jam-jam kebaktian terabai atau kita abaikan. 

Kadang-kadang kita juga menolak melayani Tuhan dengan alasan sibuk dan tidak ada waktu terluang sedikit pun. Kita lebih mementingkan pekerjaan daripada bersama dengan Tuhan. Pekerjaan, karier atau berniaga adalah salah satu cara Tuhan memberkati hidup kita. Tetapi apabila kita anggap pekerjaan itu lebih penting daripada beribadah kepada Tuhan, maka itu akan menjadi berhala bagi kita. Itu akan membuat seseorang itu semakin jauh dari panggilan Tuhan.

Walhal, "Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; Sia-sialah kamu bangun pagi-pagi dan duduk-duduk sampai jauh malam, dan makan roti yang diperoleh dengan susah payah-sebab Ia memberikannya kepada yang dicintai-Nya pada waktu tidur." (Mazmur 127:1-2). Ketaatan kita kepada Tuhan harus menjadi keutamaan dalam kehidupan ini.


"Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Matius 6:33). Kiranya Tuhan memberkati!

Ahad, 16 September 2018

Renungan Petang, Selasa17 September 2018



Renungan Petang
Isnin, 17 September 2018

Menolak Undangan

"Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf." Lukas 14:18

Lukas 14:15-24 adalah perumpamaan tentang orang-orang yang berdalih atau suka memberikan alasan. Dalam kisah ini Tuhan Yesus menggambarkan hal Kerajaan Syurga seperti seorang Tuan yang mengadakan jamuan yang besar dan menjemput ramai orang untuk datang ke majlisnya. Biasanya orang akan  bergembira dan menunjukkan respon yang baik ketika diundang ke sebuah majlis. 

Pesta atau jamuan besar itu biasanya lebih kepada makanan yang sedap dan acara  yang meriah. Namun dalam kisah ini respon orang-orang yang diundang kelihatan sangat mengejutkan, sekaligus mengecewakan. Mereka menolak undangan itu dengan berbagai dalih atau alasan, padahal si Tuan yang empunya acara ini berkata, "...rumahku harus penuh." (ayat 23). Menolak undangan bermaksud kehilangan kesempatan untuk menikmati perjamuan.

Inilah gambaran dari orang-orang yang menganggap remeh berita penyaliban Yesus yang menyelamatkan dunia. Memang,  "...pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah." (1 Korintus 1:18). Mereka secara terang-terangan menolak keselamatan yang ditawarkan Allah melalui AnakNya, Yesus Kristus.

Walhal "...begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkan. Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah."  (Yohanes 3:16-19). 

Nampaknya begitu ramai orang yang sengaja melecehkan dan mempermainkan Yesus Kristus. Walhal hanya oleh iman di dalam Yesus Kristus kita boleh diselamatkan. Malahan ada juga orang percaya kepada Tuhan acapkali mensia-siakannya dengan tidak mengerjakan keselamatan itu dengan hati yang takut dan gentar (baca  Filipi 2:12-13). 

Kita tidak lagi memberi respon yang positif kepada keselamatan yang telah kita terima dengan percuma itu dengan cara melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari kebenaran firman Tuhan, dan menganggapnya sebagai satu hal yang biasa.


Kiranya Tuhan memberkati!

Sabtu, 15 September 2018

Renungan Petang, Ahad 16 September 2018



Renungan Petang
Ahad, 16 September 2018

Yang Menjadi Suami Mu

"Maka pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN, engkau akan memanggil Aku: Suamiku, dan tidak lagi memanggil Aku: Baalku!" Hosea 2:15

Nama 'Hosea' memiliki maksud iaitu, keselamatan. Dia diutus oleh Tuhan untuk menegur bangsa Israel  (umat pilihan Tuhan) yang sudah tidak lagi setia kepada Tuhan. Dalam Perjanjian Lama hubungan Tuhan dengan bangsa Israel seringkali digambarkan sebagai hubungan perkhawinan atau ikatan perkhawinan secara rohani.

Tuhan memposisikan diri-Nya sebagai Suami, sedangkan bangsa Israel sebagai isteri-Nya. Namun hubungan intim ini telah dirosakkan oleh bangsa Israel yang telah berlaku tidak setia kepada Tuhan. Tindakan bangsa Israel 'membelakangi' Tuhan untuk menyembah kepada dewa-dewa (berhala) dianggap Tuhan sebagai ketidaksetiaan atau perzinahan rohani.

Melalui Hosea ini, Tuhan mengungkapkan kekecewaan-Nya yang mendalam, sebab mereka hanya menganggap Tuhan sebagai Baal, bukan lagi sebagai Suami. Maksudnya hubungan ini tidak lagi berdasarkan penyerahan hati atau berdasarkan kasih yang mendalam. Namun sekalipun bangsa Israel tidak setia, Tuhan tetap mengasihi mereka dan rindu untuk memulihkan mereka menjadi umat kesayangan-Nya kembali.

"Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku untuk selama-lamanya dan Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam keadilan dan kebenaran, dalam kasih setia dan kasih sayang. Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN."  (Hosea 2:18-19). Tuhan memperlakukan umat Israel dengan begitu sabar agar dapat membawa mereka pulang kembali ke dalam pelukan-Nya.

Jika memperhatikan sepanjang sejarah bangsa Israel, Tuhan sangat mengasihi mereka dan tetap berlaku sabar, sekalipun mereka telah bercabang hati, hendaknya hal ini menguatkan iman kita selaku Israel-Israel rohani. Sekalipun kita harus melalui lembah kesusahan, jika kita mahu bertahan, tetap setia dan tidak meninggalkan 'Suami', Tuhan berjanji: "Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal TUHAN."  (Hosea 2:14);  Lembah kesusahan akan diubah Tuhan menjadi Pintu Pengharapan.


Kesetiaan Tuhan atas kita tak pernah berubah. Kiranya Tuhan memberkati!

Renungan Petang, Sabtu 15 September 2018



Renungan Petang
Sabat, 15 September 2018

Berani Kerana Injil Kebenaran

"Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil," Filipi 1:12

Ketika menulis surat untuk jemaat di Filipi ini, rasul Paulus sedang berada dalam keadaan yang kurang baik, dia sedang dipenjara. Walaupun kukuhnya tembok penjara tetapi tidak mampu menghalangnya untuk tetap melayani Tuhan, tak mampu melemahkan semangatnya untuk menjangkau jiwa-jiwa dan tidak mampu merampas sukacitanya, karena di dalam penjara sekalipun dia sentiasa bersukacita dan mampu menguatkan jemaat Tuhan melalui surat-surat yang ditulisnya.

Semua orang tahu bahawa penjara adalah tempat mereka yang telah melanggar undang-undang atau melakukan jenayah. Berbeza dengan rasul Paulus yang dimasukan ke dalam penjara bukan karena kes jenayah tetapi kerana keyakinannya terhadap Yesus Kristus serta pembelaannya terhadap Injil. Di sebalik kejadian ini, ada impak rohani yang luar biasa. Umat Tuhan bukan semakin lemah dalam melayani pekerjaan Tuhan, namun mereka semakin berani memberitakan Injil, "...bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak takut." (ayat 14).  Orang dunia boleh membelenggu para hamba Tuhan seperti penjahat, "...tetapi firman Allah tidak terbelenggu." (2 Timotius 2:9).

Mengapa rasul Paulus rela dipenjara kerana Injil?  Sebab Kristus telah mati untuk menebus dosa-dosanya, dan penderitaan yang dialami oleh Paulus itu tidak setanding dengan penderitaan dan pengorbanan Kristus ketika tergantung di kayu salib.  Kesedaran inilah yang menyebabkan rasul Paulus rela melakukan apa saja untuk Injil, dipenjara pun dia tidak takut, malahan mampu tetap bersukacita. Bagi rasul Paulus memberitakan Injil itu adalah suatu kewajiban, malahan dia merasa sangat berhutang bila tidak menjalankan tugas pemberitaan Injil (baca  Roma 1:14-15).


Tugas pemberitaan Injil sepatutnya dilaksanakan dengan penuh sukacita dan tanggungjawab bagi semua orang percaya. Kiranya Tuhan memberkati!

Renungan Petang, Sabat 15 September 2018



Renungan Petang
Sabat, 15 September 2018

Berani Kerana Injil Kebenaran

"Aku menghendaki, saudara-saudara, supaya kamu tahu, bahwa apa yang terjadi atasku ini justru telah menyebabkan kemajuan Injil," Filipi 1:12

Ketika menulis surat untuk jemaat di Filipi ini, rasul Paulus sedang berada dalam keadaan yang kurang baik, dia sedang dipenjara. Walaupun kukuhnya tembok penjara tetapi tidak mampu menghalangnya untuk tetap melayani Tuhan, tak mampu melemahkan semangatnya untuk menjangkau jiwa-jiwa dan tidak mampu merampas sukacitanya, karena di dalam penjara sekalipun dia sentiasa bersukacita dan mampu menguatkan jemaat Tuhan melalui surat-surat yang ditulisnya.

Semua orang tahu bahawa penjara adalah tempat mereka yang telah melanggar undang-undang atau melakukan jenayah. Berbeza dengan rasul Paulus yang dimasukan ke dalam penjara bukan karena kes jenayah tetapi kerana keyakinannya terhadap Yesus Kristus serta pembelaannya terhadap Injil. Di sebalik kejadian ini, ada impak rohani yang luar biasa. Umat Tuhan bukan semakin lemah dalam melayani pekerjaan Tuhan, namun mereka semakin berani memberitakan Injil, "...bertambah berani berkata-kata tentang firman Allah dengan tidak takut." (ayat 14).  Orang dunia boleh membelenggu para hamba Tuhan seperti penjahat, "...tetapi firman Allah tidak terbelenggu." (2 Timotius 2:9).

Mengapa rasul Paulus rela dipenjara kerana Injil?  Sebab Kristus telah mati untuk menebus dosa-dosanya, dan penderitaan yang dialami oleh Paulus itu tidak setanding dengan penderitaan dan pengorbanan Kristus ketika tergantung di kayu salib.  Kesedaran inilah yang menyebabkan rasul Paulus rela melakukan apa saja untuk Injil, dipenjara pun dia tidak takut, malahan mampu tetap bersukacita. Bagi rasul Paulus memberitakan Injil itu adalah suatu kewajiban, malahan dia merasa sangat berhutang bila tidak menjalankan tugas pemberitaan Injil (baca  Roma 1:14-15).

Tugas pemberitaan Injil sepatutnya dilaksanakan dengan penuh sukacita dan tanggungjawab bagi semua orang percaya. Kiranya Tuhan memberkati!

Jumaat, 14 September 2018

Renungan Petang, Jumaat 14 September 2018



Renungan Petang
Jumaat, 14 September 2018

Berdoalah Jika Anda Khuatir

"Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur." Filipi 4:6

Semua orang pasti pernah merasa khuatir atau bimbang. Banyak hal yang menyebabkan orang merasa khuatir iaitu, keperluan hidup setiap hari, kos pendidikan yang semakin tinggi, penyakit, masa depan anak-anak, tidak mendapatkan jodoh dan banyak lagi. Jika terus-menerus dilanda kekhuatiran akhirnya mendatangkan keburukan. Akibatnya, hilang damai sejahtera atau sukacita dan mudah diserang penyakit. "Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang," (Amsal 12:25).

Pemazmur menasihati: "Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau!"  (Mazmur 55:23a). Kalau kita menyerahkan sepenuhnya dan percaya kepada Tuhan, sesungguhnya tidak ada perkara yang perlu dikhuatirkan, sebab semua ada dalam kawalan kuasa-Nya dan tidak ada sesuatu yang sukar bagi-Nya untuk bertindak menolong kita.

Yang perlu kita lakukan adalah datang kepada Tuhan melalui doa dan melakukan kehendakNya. Hidup berkemenangan adalah bahagian hidup orang percaya sebab kita mempunyai Tuhan yang sanggup meneduhkan angin dan badai kehidupan. Ketika Elia bersungguh-sungguh berdoa kepada Tuhan, hujan tidak turun selama tiga setengah tahun;  dan melalui kekuatan doa yang Elia panjatkan, langit menurunkan hujan (1 Raja-Raja 18:42-45).

Oleh itu, kita tidak perlu khuatir tentang apa pun  walaupun secara fakta ada alasan untuk kita merasa khuatir sebab Tuhan Yesus sudah menang bagi kita melalui karya pengorbanan-Nya di kayu salib. "Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita." (Matius 8:17). Jangan sekali-kali merasa jemu berdoa, apatah lagi sampai berhenti berdoa, sebab "Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya." (Yakobus 5:16).


Selama kita memiliki hubungan yang karib dengan Tuhan, tidak ada yang perlu dikhuatirkan. Kiranya Tuhan memberkati!

Khamis, 13 September 2018

Renungan Petang, Khamis 13 September 2018



Renungan Petang
Khamis, 13 September 2018

Tuhan Tidak Pernah  Berubah

"tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan." Mazmur 102:28

Kita sering terdengar ada pasangan suami isteri yang mengeluh kerana pasangannya sudah mulai berubah. Suami yang dahulunya penyabar dan penuh perhatian kini berubah menjadi pemarah, kasar, malahan suka memukul. Isteri yang dahulunya bermulut manis dan halus budi bahasanya kini cerewet dan kasar. Berbeza sekali ketika baru berkhawin.

Ada ramai juga ibubapa mengeluh kerana begitu besar perubahan dalam diri anak-anak mereka. Mereka yang dahulunya seorang penurut tetapi kini suka sekali memberontak. Mungkin kita juga mengenali seseorang yang kita anggap baik dan kita berfikir bahawa kebaikan itu akan terus berlangsung tetapi rupa-rupanya kini dia berubah. Betapa sering kita dikecewakan oleh orang lain yang ingkar terhadap janji-janjinya. Tak ada jaminan bahawa manusia yang kita kenal akan tetap sama selamanya. Manusia mudah berubah...itulah manusia.

Oleh itu jangan, sekali-kali "...berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?" (Yesaya 2:22). Juga nabi Yeremia memberikan peringatan keras: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!" (Yeremia 17:5).  Berharap dan mendahulukan manusia hanya akan membuat kita kecewa, sakit hati dan tertekan kerana manusia mudah sekali berubah.

Siapa yang tidak pernah berubah? Tuhan. "Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah," (Maleakhi 3:6). Hanya Tuhan, satu-satunya peribadi yang "...Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya." (Ibrani 13:8), yang selalu konsisten dengan apa yang diucapkan atau janjikan, sebab "Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?" (Bilangan 23:19).

Hanya Tuhan yang tidak pernah melupakan atau melalaikan apa yang pernah dijanjikan-Nya. Tuhan tidak pernah berubah dengan tujuan agar manusia diselamatkan dan memperolehi apa yang dijanjikan-Nya. Bersemangatlah menjalani kehidupan ini, kerana kita mempunyai Tuhan yang tidak pernah berubah.


Kiranya Tuhan memberkati

Rabu, 12 September 2018

Renungan Petang, Rabu 12 September 2018


Renungan Petang
Rabu, 12 September 2018

Menjaga Dan Memelihara Hati

"Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu." Amsal 27:19

Hati manusia mencerminkan tabiat manusia. Maksudnya apa yang ada dalam hati seseorang pasti akan kedengaran dalam ucapan dan kelihatan tindakannya. Kalau hati bermasalah maka segala ucapan dan tindakannya juga pasti ada sesuatu yang mengganggu. Itulah sebabnya penulis Amsal menasihati kita agar sentiasa menjaga hati dengan penuh kewaspadaan agar tetap dalam keadaan baik. "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23).

Mengapa hati harus selalu dijaga? Kerana hati boleh menimbulkan berbagai masalah dalam kehidupan harian kita. Tuhan menunjukkan bahawa ada banyak persoalan yang boleh terjadi di dalam hati manusia.

Hati sumber kejahatan. "Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat."  (Matius 15:19). Apapun tindakan kejahatan seperti membunuh, merampok, mencuri, menipu, memerkosa dan sebagainya, bermula dari niat yang ada di dalam hati si pelaku. Sungguh mengerikan sekali jika hati tidak terjaga dan dipelihara dengan baik.

Hati boleh menjadi degil. "...hati mereka tetap degil."  (Markus 6:52b). Degil adalah sebuah kata yang sebenarnya sangat mengerikan, kerana istilah Yunani yang digunakan di sini adalah porosis, yang bermaksud seperti batu yang kerasnya luar biasa, ditutupi oleh sesuatu yang tebal, mengeras dan sukar untuk memahami. Dalam Kamus Bahasa Melayu, perkataan degil mempunyai maksud tidak mahu menuruti nasihat orang, keras kepala atau berkepala batu.

Apa pun yang terucap dari mulut orang semuanya berasal dari hati.  Kalau hati benar, yang keluar dari mulut pasti benar. Sebaliknya apabila hati dalam keadaan keruh, pasti yang keluar dari mulut adalah hal-hal yang negatif. "Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati. Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat." (Matius 12:34-35).


Jaga dan peliharalah hati agar tetap kuat dan teguh walaupun berhadapan dengan segala macam ujian dan cabaran. Menjaga dan memelihara hati adalah dengan melakukan firman dan kehendakNya. Kiranya Tuhan memberikati!

Selasa, 11 September 2018

Renungan Petang SDA, Selasa 11 September 2018


Renungan Petang
Selasa, 11 September 2018

Berkat Tuhan Selalu Baru Setiap Hari

"Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya" Lukas 11:3

Tidak pernah merasa puas adalah sifat manusia.  Dalam banyak hal, manusia selalu menginginkan lebih dari apa yang telah diperolehi dan selalu ingin mendapatkan lebih daripada cukup. "Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia." (Pengkhotbah 5:9).

Tuhan tentu tahu bahawa manusia tidak pernah merasa puas, cenderung ingin lebih lagi. Oleh itu, Dia mengajar murid-murid-Nya berdoa demikian: "Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya" (Lukas 11:3). Ayat ini mengajarkan kita berserah dan sentiasa mendahulukan Tuhan setiap hari. Kalau kita dapat menyerahkan kehidupan kita kepadaNya setiap masa, kita tidak akan merasa khuatir dan tak timbul rasa tamak.

Keinginan untuk mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik sungguh sangat melelahkan. Alkitab menasihati, "Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing."  (Roma 12:3).  Sebagai manusia kita takkan mampu menjangkau apa yang jauh di hadapan.

Apa yang akan terjadi di kemudian hari, entah itu esok atau lusa, tak seorang pun tahu. Hari esok bukanlah milik kita tetapi sepenuhnya di dalam kawalan Tuhan, Dialah yang empunya hari esok. Maka dari itu, "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu."  (Amsal 27:1). Jika hari esok itu tiba, percayalah Bapa telah menyediakan segala sesuatu yang terbaik yang kita perlukan.

Apakah kita dapat memakan hidangan untuk satu minggu kemudian hanya dengan sekali makan?  Apakah manusia dapat menghirup udara sekaligus untuk disimpan sebagai stok selama satu bulan kemudian hanya dengan satu kali tarikan nafas? Tidak! Kita hanya dapat menerima berkat Tuhan setiap hari sesuai dengan apa yang kita perlukan. Hal ini mengajar kita untuk berserah terus kepada Tuhan setiap masa.

"Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" Ratapan 3:22-23. Kiranya Tuhan memberkati!