Ahad, 25 November 2018

Renungan Petang Isnin, 26 November 2018



Renungan Petang
Isnin, 26 November 2018

Waktu Adalah Anugerah Dan Kesempatan

"Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat..." 2 Petrus 3:15

Sebagai orang percaya, kita harus melihat kepada waktu yang kita miliki pada saat ini dengan sudut pandang yang berbeza. Waktu hidup yang kita miliki saat ini harus dipandang serius sebagai sebuah anugerah dan kesempatan untuk berubah dari cara hidup yang lama, cara hidup yang sia-sia selama ini, dan kembali mengarahkan fokus hidup ini hanya untuk melakukan kehendak Allah Bapa di syurga.

Memanfaatkan waktu yang masih ada untuk hidup melakukan kehendak Allah Bapa di syurga, adalah sebuah keputusan yang sangat tepat, sebab ini akan memberi impak kepada kehidupan kita kelak. Hal ini tentu menjadi sebuah sasaran utama dalam hidup kita sebagai orang percaya, dan kita harus usahakan hal ini dengan bersungguh-sungguh melebihi segala persoalan hidup apapun yang sedang kita hadapi di dunia saat ini. Sebab berjuang untuk hidup melakukan kehendak Allah Bapa di syurga itu bukan sesuatu yang mudah.

Orang-orang yang tidak bersungguh-sungguh memanfaatkan waktu hidup yang ada untuk berjuang melakukan kehendak Allah Bapa di syurga, maka pada akhirnya nanti, mereka akan terpisah dari Allah untuk selama-lamanya. Terpisah dari Allah untuk selama-lamanya, adalah hal yang sangat mengerikan. Terpisah dari Allah maksudnya tidak mempunyai ruang di dalam kerajaan syurga atau mungkin dalam kata lain dibuang ke dalam api neraka.

Dan setiap perbuatan yang merupakan kejahatan di mata Allah tidak mendapat bahagian di dalam Kerajaan syurga. Itulah kenapa kita harus menyedari akan hal ini dan mahu melihat waktu yang kita miliki saat ini sebagai sebuah anugerah Tuhan di mana kita berkesempatan untuk mengubah diri selama kita masih hidup di dunia ini, dan hidup saat ini hanya untuk melakukan kehendak Allah Bapa di syurga. Jadi kalau hari ini kita masih memiliki perjalanan waktu, maksudnya kita masih ada kesempatan untuk berubah dan bertaubat dan kembali kepada Tuhan.

Jika kesempatan waktu yang masih ada ini tidak dimanfaatkan, maka kesempatan ini tidak akan pernah kembali lagi, sebab waktu yang sudah berlalu tidak akan pernah kembali. Bertaubatlah dan berbaliklah kepada Tuhan sebelum terlambat. Kehidupan di dunia ini hanya sementara. Oleh itu, pergunakanlah waktu yang ada saat ini, untuk melakukan kehendakNya Allah, dan KerajaanNya melebihi apapun yang ada di dunia ini. Kiranya kebenaran ini memberkati kita semua. Amen!

Sabtu, 24 November 2018

Renungan Petang 25 November 2018



Renungan Petang
25 November 2018

Satu Langkah Menuju Kematian

"Lalu Saul melemparkan tombaknya kepada Yonatan untuk membunuhnya. Maka tahulah Yonatan, bahwa ayahnya telah mengambil keputusan untuk membunuh Daud." 1 Samuel 20:33

Kehidupan Daud pada masa itu terancam ketika dirinya dia dikejar-kejar oleh Saul. Pernyataan ini disampaikannya di depan Yonathan anak Saul, 1 Samuel 20:3,"...hanya 1 langkah jaraknya antara aku dan maut..." Pernyataan ini sesungguhnya adalah  sebuah "warning" atau peringatan untuk setiap manusia, siapapun dia, apapun statusnya, di manapun dia berada, dan ke manapun dia pergi. Ingat bahawa kita hanya "selangkah dengan kematian".

Namun kematian, atau ancaman kematian bukanlah sebuah bahaya yang perlu difikirkan lebih jauh tetapi bagaimana hubungan kita bersama Yesus. Daud berkongsi pengalamannya ketika berada di dalam ancaman kematian, dalam kata-katanya yang indah dalam Mazmur 23:4, terjemahan lama, "jikalau aku berjalan dalam lembah bayang-bayang maut sekalipun, tiada juga aku takut bahaya, karena Engkau juga menyertai aku." Kerana Daud sudah meletakkan kehidupanya hanya kepada Yesus.

Di dalam kehidupan yang sementara ini, kita tidak dapat menghindari diri dari ancaman maut, kita tidak dapat mengelak dari kematian, kita tidak dapat melawan ajal, kita tidak dapat menolak bahaya kematian, dan mungkin kita tidak dapat mengurangi risiko-risiko bahaya, tetapi yakinkanlah dan pastikanlah pada diri kita saat ini dan seterusnya, kita akan mengalami kematian. Mati kerana nama Yesus atau mati dengan sia-sia kerana pilihan sendiri? Persoalannya, apakah kehidupan kita ini sejalan bersama dengan Yesus?

Bersama Yesus, walaupun kehidupan yang membimbangkan bagaikan sedang berjalan menuju ke "air yang tenang" dan bagaikan sedang berbaring di "rumput yang hijau". Semoga saat ini berlalu bagi kita dengan perasaan damai, tenang, gembira dan optimis kerana kita bersama Yesus. Maka marilah kita memilih, "Selalu Bersama Dengan Yesus" setiap masa agar kita tidak akan pernah takut ancaman kematian sekalipun oleh siapapun dan dengan cara apapun yang ada di depan kita. Tuhan memberkati Anda!


Renungan Petang Sabat, 24 November 2018



Renungan Petang
Sabat, 24 November 2018

Datanglah Kepada Yesus

"Pada Dialah kuasa dan kemenangan, Dialah yang menguasai baik orang yang tersesat maupun orang yang menyesatkan." Ayub 12:16

Jika kita merasakan kehidupan ini tidak adil bagi kita, jika tekanan hidup terlalu sukar bagi kita, jika sikap orang lain selalu menyakiti hati kita, jika segala situasi sangat menyusahkan kita, tempat dan cara yang terbaik adalah kita datang kepada TUHAN.” Bawalah segala beban dan masalah kepada-Nya. Ceritakanlah segalanya.

Yesus berkata, Matius 11:28, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Ya karena datang kepadaNYA itu jauh lebih aman dan damai, datanglah kepadaNYA itu memberikan penyelesaian, dan datang kepadaNYA tidak pernah akan sia-sia.

Wanita yang mengalami perdarahan selama 12 tahun, tidak sia-sia datang kepadaNya, padahal dia hanya “menjamah” jubahNya. Zakheus yang di “jauhi” masyarakat, tidak sia-sia untuk datang kepada Yesus walaupun hanya mencuba melihatNya dari atas pohon. Maria mengalami perubahan hidup yang besar, ketika dia menghabiskan banyak waktunya “duduk dikaki Yesus”.

Nikodemus menjadi orang yang berbeza, setelah dia datang pada suatu malam kepada Yesus. Bartimeus pengemis yang buta itu, akhirnya boleh melihat dengan jelas, setelah berani datang kepada Yesus sekalipun sebelum ini dia dihalangi orang ramai untuk datang kepada Yesus. Mari, datanglah kepadaNya.

Ayub tahu, siapa Allah yang dia sampaikan perkaranya itu, Dia adalah Allah yang adil, Dia adalah Allah yang Maha kuasa, Dia adalah sahabat bagi setiap orang yang dipinggirkan dan disakiti. KepadaNya-lah hari itu Ayub membawa masalahnya. Bagaimana dengan masalah kita hari ini? Kepada siapakah kita akan menceritakan segala masalah kita? Belajarlah dari pengalaman Ayub, dia datang mencari Tuhan.

Tuhan memberkati!

Khamis, 22 November 2018

Renungan Petang 23 November 2018



Renungan Petang
23 November 2018

Anda Gagal?

"Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari TUHAN, dari langit;" Kejadian 19:24

Lot tentu tidak menyangka bahawa keputusannya untuk tinggal di Sodom adalah permulaan malapetaka bagi dia dan seisi keluarganya. Selain itu, dia juga telah kehilangan suatu hubungan yang karib dengan pakciknya, Abraham. Pilihan inilah yang akhirnya membawa Lot kepada kehancuran dan kegagalan dalam hidupnya.

Apa yang menurut pemikiran kita baik belum tentu baik di mata Tuhan. "Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut." (Amsal 14:12).  Firman Tuhan mengingatkan, "...carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Matius 6:33).  Inilah yang diabaikan Lot iaitu, lebih memikirkan kesenangan duniawi daripada mengutamakan perkara-perkara rohani.

Pada mulanya, dia hanya berkhemah berdekatan dengan Sodom, tetapi pada akhirnya dia tinggal di kota itu dan bergaul dengan penduduknya. Alkitab menegaskan, "Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik."  (1 Korinus 15:33). Lot memilih untuk berkompromi dengan dosa.

Sebagai orang yang mempunyai pengetahuan tentang firman dan kebenaran Tuhan, seharusnya Lot boleh memberikan teladan hidup yang baik dan menjadi terang bagi orang-orang Sodom, namun dia pula terpengaruh dan 'bersahabat' dengan dunia. "...persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah?" (Yakobus 4:4).

Ketika Sodom dan Gomora dibumihanguskan Tuhan, Lot terkena tempiasnya. Harta kekayaan dan isterinya juga menjadi tiang garam. Tuhan masih menunjukkan kasihNya kerana Dia tetap ingat kepada Abraham sehingga Lot terlepas dari bencana itu.

Berhati-hatilah dalam mengambil setiap keputusan, sebab jika kita salah dalam membuat keputusan akan mengakibatkan penyesalan dan kebinasaan. "...janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak," (Amsal 3:5-7).

Tuhan  memberkati!

Renungan Petang Khamis, 22 November 2018




Renungan Petang
Khamis, 22 November 2018

Di Mana Yang Benar?

"Celakalah nabi-nabi yang bebal yang mengikuti bisikan hatinya sendiri dan yang tidak melihat sesuatu penglihatan." Yehezkiel 13:3

Sejak dahulu hingga sekarang tugas penginjilan tidaklah begitu mudah. Berhadapan dengan tekanan, ujian, halangan dan sebagainya. Ramai yang mengalami aniaya, penyeksaan dan kehilangan nyawanya kerana menyampaikan berita kebenaran tersebut. Cabaran itu bukan hanya datang dari orang-orang yang menolak Injil tetapi juga datang dari orang-orang 'dalam' yang kelihatan turut serta mengambil bahagian dalam pekerjaan Tuhan.

Apa yang telah dialami oleh Amos ketika menyampaikan pesanan Tuhan? Dia dicabar oleh Amazia, yang adalah nabi yang percaya. Dia dilaporkan kepada raja Yerobeam atas keberaniannya menyuarakan kebenaran. Dengan tegas Amazia mengusir Amos, "Pelihat, pergilah, enyahlah ke tanah Yehuda! Carilah makananmu di sana dan bernubuatlah di sana!" (Amos 7:12).

Ketika diutus Tuhan menegakkan kebenaran di antara bangsa yang sedang mengalami kemerosotan iman, Yehezkiel juga mengalami cabaran dan ujian berat dengan banyaknya kemunculan hamba-hamba Tuhan yang palsu di Israel. Apa yang mereka beritakan bukanlah ajaran yang mengandungi nilai-nilai kebenaran, melainkan kepalsuan dan penyimpangan.

Mereka "...bernubuat sesuka hatinya saja:" (ayat 2), maksudnya menyatakan nubuatan hasil karya sendiri yang dipenuhi dengan tipu muslihat dan bukan berdasarkan kebenaran dari Tuhan. Apakah itu nubuatan? Nubuatan adalah pemberitahuan atau penyampaian tentang hal-hal yang akan terjadi di kemudian hari. Itu datangnya hanya dari Tuhan melalui orang-orang pilihannya untuk menyatakan maksud dan kehendakNya.

Sementara nubuatan yang disampaikan oleh para nabi palsu itu tidak datang dari Allah, maksudnya nubuatan tersebut diciptakan sendiri, direka-reka, mengikuti bisikan hatinya sendiri, dengan tujuan untuk menyenangkan hati orang yang mendengarkannya dan untuk mendapatkan keuntungan dari pelayanan yang dilakukan, walhal :

"Penglihatan mereka menipu dan tenungan mereka adalah bohong; mereka berkata: Demikianlah firman TUHAN, padahal TUHAN tidak mengutus mereka, dan mereka menanti firman itu digenapi-Nya." (Yehezkiel 13:6).

Kebenaran firman Tuhan membongkar segala kepalsuan duniawi. Kiranya Tuhan memberkati!

Rabu, 21 November 2018

Renungan Petang Rabu, 21 November 2018



Renungan Petang
Rabu, 21 November 2018

Mencegah Adalah Lebih Baik

"Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia." Lukas 21:36

Ada yang mengatakan bahawa mencegah lebih baik dari pada mengubati, yang bermaksud melakukan pencegahan atau berjaga-jaga terlebih dahulu untuk menghindari sebarang kemungkinan. Prinsip ini dapat diterapkan di dalam apa jua bidang kehidupan. Bukan hanya berkenaan dengan penyakit yang datang tanpa diduga dan menyerang sesiapa sahaja. Caranya adalah melakukan pencegahan. Jangan sampai ketika 'musuh' datang kita baru sibuk mencari senjata untuk melawan. Terlambat sedikit buruk akibatnya.

Dalam kehidupan ini juga adalah lebih baik berjaga-jaga atau mempersiapkan segala sesuatu sebaik mungkin daripada harus melakukan pembaikan ke atas kegagalan-kegagalan yang telah terjadi, yang tentunya akan lebih sukar. Yesus juga memberi peringatan kepada kita untuk selalu berjaga-jaga sambil berdoa agar kita tidak jatuh ke dalam pencubaan (baca Matius 26:41).

Mengapa kita harus berjaga-jaga? Kerana "...Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya." (1 Petrus 5:8). Iblis selalu mencari ruang dan memanfaatkan kelekaan kita.

Jika kita tidak berjaga-jaga, kita menjadi sasaran dan mangsanya dengan begitu mudah. Dunia ini penuh dengan godaan dan ujian (keinginan daging, keinginan mata serta keangkuhan hidup - 1 Yohanes 2:16). Jika iman tidak teguh kita akan mudah dibawa arus kehidupan dunia. "Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus." (Ibrani 2:1).

Rasul Paulus memberi nasihat, "Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati." (Roma 13:13). Mengapa? Kerana, "...kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar." (1 Tesalonika 5:5-6).

Sebagai anak-anak terang kita harus menjaga diri supaya tidak terjerumus di dalam pesta pora dan kemabukan duniawi. Kiranya Tuhan memberkati

Selasa, 20 November 2018

Renungan Petang Selasa, 20 November 2018



Renungan Petang
Selasa, 20 November 2018

Setia Dalam Perkara-Perkara Kecil

"Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar." Lukas 16:10

Ramai orang seringkali memusatkan perhatian atau hanya berfokus kepada hal-hal yang besar, sehingga melupakan, meremehkan dan memandang rendah terhadap perkara yang kecil atau sederhana. Walhal untuk mencapai kepada perkara-perkara yang besar kita harus bermula dari hal-hal yang kecil. Untuk mencapai ke puncak gunung kita harus bermula dari bawah atau melalui lembah dan lereng terlebih dahulu.

Cuba bertanya kepada orang-orang yang sudah berjaya, dalam bidang perniagaan atau pekerjaan, mereka juga bermula dari kosong untuk mencapai kejayaan. Di zaman sekarang ini, ramai orang ingin berjaya dengan jalan pintas, tak peduli walaupun dengan cara yang tidak halal. Ketika melamar pekerjaan, orang mahu diberikan jawatan tinggi atau gaji yang besar. Begitu pula dalam hal melayani pekerjaan Tuhan, ramai orang inginkan jawatan  yang lebih besar di dalam organisasi.

Sebelum kita layak untuk menerima sebuah kepercayaan, mahu tidak mahu, kita harus terlebih dahulu melalui proses dari bawah. Kita tidak secara tiba-tiba berada di puncak. Ada ujian kesetiaan, ujian ketekunan dan ujian kesabaran dalam melakukan perkara-perkara kecil. Adakalanya kita terpaksa melalui pengalaman pahit atau situasi sukar yang sangat menyakitkan, namun kita tidak boleh berputus asa, kita harus terus melangkah dan melangkah dan tetap melakukan apa yang menjadi bahagian kita, tanpa ada rungutan.

Kiranya Tuhan memberkati!