Ahad, 25 November 2018

Renungan Petang Isnin, 26 November 2018



Renungan Petang
Isnin, 26 November 2018

Waktu Adalah Anugerah Dan Kesempatan

"Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat..." 2 Petrus 3:15

Sebagai orang percaya, kita harus melihat kepada waktu yang kita miliki pada saat ini dengan sudut pandang yang berbeza. Waktu hidup yang kita miliki saat ini harus dipandang serius sebagai sebuah anugerah dan kesempatan untuk berubah dari cara hidup yang lama, cara hidup yang sia-sia selama ini, dan kembali mengarahkan fokus hidup ini hanya untuk melakukan kehendak Allah Bapa di syurga.

Memanfaatkan waktu yang masih ada untuk hidup melakukan kehendak Allah Bapa di syurga, adalah sebuah keputusan yang sangat tepat, sebab ini akan memberi impak kepada kehidupan kita kelak. Hal ini tentu menjadi sebuah sasaran utama dalam hidup kita sebagai orang percaya, dan kita harus usahakan hal ini dengan bersungguh-sungguh melebihi segala persoalan hidup apapun yang sedang kita hadapi di dunia saat ini. Sebab berjuang untuk hidup melakukan kehendak Allah Bapa di syurga itu bukan sesuatu yang mudah.

Orang-orang yang tidak bersungguh-sungguh memanfaatkan waktu hidup yang ada untuk berjuang melakukan kehendak Allah Bapa di syurga, maka pada akhirnya nanti, mereka akan terpisah dari Allah untuk selama-lamanya. Terpisah dari Allah untuk selama-lamanya, adalah hal yang sangat mengerikan. Terpisah dari Allah maksudnya tidak mempunyai ruang di dalam kerajaan syurga atau mungkin dalam kata lain dibuang ke dalam api neraka.

Dan setiap perbuatan yang merupakan kejahatan di mata Allah tidak mendapat bahagian di dalam Kerajaan syurga. Itulah kenapa kita harus menyedari akan hal ini dan mahu melihat waktu yang kita miliki saat ini sebagai sebuah anugerah Tuhan di mana kita berkesempatan untuk mengubah diri selama kita masih hidup di dunia ini, dan hidup saat ini hanya untuk melakukan kehendak Allah Bapa di syurga. Jadi kalau hari ini kita masih memiliki perjalanan waktu, maksudnya kita masih ada kesempatan untuk berubah dan bertaubat dan kembali kepada Tuhan.

Jika kesempatan waktu yang masih ada ini tidak dimanfaatkan, maka kesempatan ini tidak akan pernah kembali lagi, sebab waktu yang sudah berlalu tidak akan pernah kembali. Bertaubatlah dan berbaliklah kepada Tuhan sebelum terlambat. Kehidupan di dunia ini hanya sementara. Oleh itu, pergunakanlah waktu yang ada saat ini, untuk melakukan kehendakNya Allah, dan KerajaanNya melebihi apapun yang ada di dunia ini. Kiranya kebenaran ini memberkati kita semua. Amen!

Sabtu, 24 November 2018

Renungan Petang 25 November 2018



Renungan Petang
25 November 2018

Satu Langkah Menuju Kematian

"Lalu Saul melemparkan tombaknya kepada Yonatan untuk membunuhnya. Maka tahulah Yonatan, bahwa ayahnya telah mengambil keputusan untuk membunuh Daud." 1 Samuel 20:33

Kehidupan Daud pada masa itu terancam ketika dirinya dia dikejar-kejar oleh Saul. Pernyataan ini disampaikannya di depan Yonathan anak Saul, 1 Samuel 20:3,"...hanya 1 langkah jaraknya antara aku dan maut..." Pernyataan ini sesungguhnya adalah  sebuah "warning" atau peringatan untuk setiap manusia, siapapun dia, apapun statusnya, di manapun dia berada, dan ke manapun dia pergi. Ingat bahawa kita hanya "selangkah dengan kematian".

Namun kematian, atau ancaman kematian bukanlah sebuah bahaya yang perlu difikirkan lebih jauh tetapi bagaimana hubungan kita bersama Yesus. Daud berkongsi pengalamannya ketika berada di dalam ancaman kematian, dalam kata-katanya yang indah dalam Mazmur 23:4, terjemahan lama, "jikalau aku berjalan dalam lembah bayang-bayang maut sekalipun, tiada juga aku takut bahaya, karena Engkau juga menyertai aku." Kerana Daud sudah meletakkan kehidupanya hanya kepada Yesus.

Di dalam kehidupan yang sementara ini, kita tidak dapat menghindari diri dari ancaman maut, kita tidak dapat mengelak dari kematian, kita tidak dapat melawan ajal, kita tidak dapat menolak bahaya kematian, dan mungkin kita tidak dapat mengurangi risiko-risiko bahaya, tetapi yakinkanlah dan pastikanlah pada diri kita saat ini dan seterusnya, kita akan mengalami kematian. Mati kerana nama Yesus atau mati dengan sia-sia kerana pilihan sendiri? Persoalannya, apakah kehidupan kita ini sejalan bersama dengan Yesus?

Bersama Yesus, walaupun kehidupan yang membimbangkan bagaikan sedang berjalan menuju ke "air yang tenang" dan bagaikan sedang berbaring di "rumput yang hijau". Semoga saat ini berlalu bagi kita dengan perasaan damai, tenang, gembira dan optimis kerana kita bersama Yesus. Maka marilah kita memilih, "Selalu Bersama Dengan Yesus" setiap masa agar kita tidak akan pernah takut ancaman kematian sekalipun oleh siapapun dan dengan cara apapun yang ada di depan kita. Tuhan memberkati Anda!


Renungan Petang Sabat, 24 November 2018



Renungan Petang
Sabat, 24 November 2018

Datanglah Kepada Yesus

"Pada Dialah kuasa dan kemenangan, Dialah yang menguasai baik orang yang tersesat maupun orang yang menyesatkan." Ayub 12:16

Jika kita merasakan kehidupan ini tidak adil bagi kita, jika tekanan hidup terlalu sukar bagi kita, jika sikap orang lain selalu menyakiti hati kita, jika segala situasi sangat menyusahkan kita, tempat dan cara yang terbaik adalah kita datang kepada TUHAN.” Bawalah segala beban dan masalah kepada-Nya. Ceritakanlah segalanya.

Yesus berkata, Matius 11:28, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Ya karena datang kepadaNYA itu jauh lebih aman dan damai, datanglah kepadaNYA itu memberikan penyelesaian, dan datang kepadaNYA tidak pernah akan sia-sia.

Wanita yang mengalami perdarahan selama 12 tahun, tidak sia-sia datang kepadaNya, padahal dia hanya “menjamah” jubahNya. Zakheus yang di “jauhi” masyarakat, tidak sia-sia untuk datang kepada Yesus walaupun hanya mencuba melihatNya dari atas pohon. Maria mengalami perubahan hidup yang besar, ketika dia menghabiskan banyak waktunya “duduk dikaki Yesus”.

Nikodemus menjadi orang yang berbeza, setelah dia datang pada suatu malam kepada Yesus. Bartimeus pengemis yang buta itu, akhirnya boleh melihat dengan jelas, setelah berani datang kepada Yesus sekalipun sebelum ini dia dihalangi orang ramai untuk datang kepada Yesus. Mari, datanglah kepadaNya.

Ayub tahu, siapa Allah yang dia sampaikan perkaranya itu, Dia adalah Allah yang adil, Dia adalah Allah yang Maha kuasa, Dia adalah sahabat bagi setiap orang yang dipinggirkan dan disakiti. KepadaNya-lah hari itu Ayub membawa masalahnya. Bagaimana dengan masalah kita hari ini? Kepada siapakah kita akan menceritakan segala masalah kita? Belajarlah dari pengalaman Ayub, dia datang mencari Tuhan.

Tuhan memberkati!

Khamis, 22 November 2018

Renungan Petang 23 November 2018



Renungan Petang
23 November 2018

Anda Gagal?

"Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari TUHAN, dari langit;" Kejadian 19:24

Lot tentu tidak menyangka bahawa keputusannya untuk tinggal di Sodom adalah permulaan malapetaka bagi dia dan seisi keluarganya. Selain itu, dia juga telah kehilangan suatu hubungan yang karib dengan pakciknya, Abraham. Pilihan inilah yang akhirnya membawa Lot kepada kehancuran dan kegagalan dalam hidupnya.

Apa yang menurut pemikiran kita baik belum tentu baik di mata Tuhan. "Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut." (Amsal 14:12).  Firman Tuhan mengingatkan, "...carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Matius 6:33).  Inilah yang diabaikan Lot iaitu, lebih memikirkan kesenangan duniawi daripada mengutamakan perkara-perkara rohani.

Pada mulanya, dia hanya berkhemah berdekatan dengan Sodom, tetapi pada akhirnya dia tinggal di kota itu dan bergaul dengan penduduknya. Alkitab menegaskan, "Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik."  (1 Korinus 15:33). Lot memilih untuk berkompromi dengan dosa.

Sebagai orang yang mempunyai pengetahuan tentang firman dan kebenaran Tuhan, seharusnya Lot boleh memberikan teladan hidup yang baik dan menjadi terang bagi orang-orang Sodom, namun dia pula terpengaruh dan 'bersahabat' dengan dunia. "...persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah?" (Yakobus 4:4).

Ketika Sodom dan Gomora dibumihanguskan Tuhan, Lot terkena tempiasnya. Harta kekayaan dan isterinya juga menjadi tiang garam. Tuhan masih menunjukkan kasihNya kerana Dia tetap ingat kepada Abraham sehingga Lot terlepas dari bencana itu.

Berhati-hatilah dalam mengambil setiap keputusan, sebab jika kita salah dalam membuat keputusan akan mengakibatkan penyesalan dan kebinasaan. "...janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak," (Amsal 3:5-7).

Tuhan  memberkati!

Renungan Petang Khamis, 22 November 2018




Renungan Petang
Khamis, 22 November 2018

Di Mana Yang Benar?

"Celakalah nabi-nabi yang bebal yang mengikuti bisikan hatinya sendiri dan yang tidak melihat sesuatu penglihatan." Yehezkiel 13:3

Sejak dahulu hingga sekarang tugas penginjilan tidaklah begitu mudah. Berhadapan dengan tekanan, ujian, halangan dan sebagainya. Ramai yang mengalami aniaya, penyeksaan dan kehilangan nyawanya kerana menyampaikan berita kebenaran tersebut. Cabaran itu bukan hanya datang dari orang-orang yang menolak Injil tetapi juga datang dari orang-orang 'dalam' yang kelihatan turut serta mengambil bahagian dalam pekerjaan Tuhan.

Apa yang telah dialami oleh Amos ketika menyampaikan pesanan Tuhan? Dia dicabar oleh Amazia, yang adalah nabi yang percaya. Dia dilaporkan kepada raja Yerobeam atas keberaniannya menyuarakan kebenaran. Dengan tegas Amazia mengusir Amos, "Pelihat, pergilah, enyahlah ke tanah Yehuda! Carilah makananmu di sana dan bernubuatlah di sana!" (Amos 7:12).

Ketika diutus Tuhan menegakkan kebenaran di antara bangsa yang sedang mengalami kemerosotan iman, Yehezkiel juga mengalami cabaran dan ujian berat dengan banyaknya kemunculan hamba-hamba Tuhan yang palsu di Israel. Apa yang mereka beritakan bukanlah ajaran yang mengandungi nilai-nilai kebenaran, melainkan kepalsuan dan penyimpangan.

Mereka "...bernubuat sesuka hatinya saja:" (ayat 2), maksudnya menyatakan nubuatan hasil karya sendiri yang dipenuhi dengan tipu muslihat dan bukan berdasarkan kebenaran dari Tuhan. Apakah itu nubuatan? Nubuatan adalah pemberitahuan atau penyampaian tentang hal-hal yang akan terjadi di kemudian hari. Itu datangnya hanya dari Tuhan melalui orang-orang pilihannya untuk menyatakan maksud dan kehendakNya.

Sementara nubuatan yang disampaikan oleh para nabi palsu itu tidak datang dari Allah, maksudnya nubuatan tersebut diciptakan sendiri, direka-reka, mengikuti bisikan hatinya sendiri, dengan tujuan untuk menyenangkan hati orang yang mendengarkannya dan untuk mendapatkan keuntungan dari pelayanan yang dilakukan, walhal :

"Penglihatan mereka menipu dan tenungan mereka adalah bohong; mereka berkata: Demikianlah firman TUHAN, padahal TUHAN tidak mengutus mereka, dan mereka menanti firman itu digenapi-Nya." (Yehezkiel 13:6).

Kebenaran firman Tuhan membongkar segala kepalsuan duniawi. Kiranya Tuhan memberkati!

Rabu, 21 November 2018

Renungan Petang Rabu, 21 November 2018



Renungan Petang
Rabu, 21 November 2018

Mencegah Adalah Lebih Baik

"Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia." Lukas 21:36

Ada yang mengatakan bahawa mencegah lebih baik dari pada mengubati, yang bermaksud melakukan pencegahan atau berjaga-jaga terlebih dahulu untuk menghindari sebarang kemungkinan. Prinsip ini dapat diterapkan di dalam apa jua bidang kehidupan. Bukan hanya berkenaan dengan penyakit yang datang tanpa diduga dan menyerang sesiapa sahaja. Caranya adalah melakukan pencegahan. Jangan sampai ketika 'musuh' datang kita baru sibuk mencari senjata untuk melawan. Terlambat sedikit buruk akibatnya.

Dalam kehidupan ini juga adalah lebih baik berjaga-jaga atau mempersiapkan segala sesuatu sebaik mungkin daripada harus melakukan pembaikan ke atas kegagalan-kegagalan yang telah terjadi, yang tentunya akan lebih sukar. Yesus juga memberi peringatan kepada kita untuk selalu berjaga-jaga sambil berdoa agar kita tidak jatuh ke dalam pencubaan (baca Matius 26:41).

Mengapa kita harus berjaga-jaga? Kerana "...Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya." (1 Petrus 5:8). Iblis selalu mencari ruang dan memanfaatkan kelekaan kita.

Jika kita tidak berjaga-jaga, kita menjadi sasaran dan mangsanya dengan begitu mudah. Dunia ini penuh dengan godaan dan ujian (keinginan daging, keinginan mata serta keangkuhan hidup - 1 Yohanes 2:16). Jika iman tidak teguh kita akan mudah dibawa arus kehidupan dunia. "Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus." (Ibrani 2:1).

Rasul Paulus memberi nasihat, "Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati." (Roma 13:13). Mengapa? Kerana, "...kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar." (1 Tesalonika 5:5-6).

Sebagai anak-anak terang kita harus menjaga diri supaya tidak terjerumus di dalam pesta pora dan kemabukan duniawi. Kiranya Tuhan memberkati

Selasa, 20 November 2018

Renungan Petang Selasa, 20 November 2018



Renungan Petang
Selasa, 20 November 2018

Setia Dalam Perkara-Perkara Kecil

"Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar." Lukas 16:10

Ramai orang seringkali memusatkan perhatian atau hanya berfokus kepada hal-hal yang besar, sehingga melupakan, meremehkan dan memandang rendah terhadap perkara yang kecil atau sederhana. Walhal untuk mencapai kepada perkara-perkara yang besar kita harus bermula dari hal-hal yang kecil. Untuk mencapai ke puncak gunung kita harus bermula dari bawah atau melalui lembah dan lereng terlebih dahulu.

Cuba bertanya kepada orang-orang yang sudah berjaya, dalam bidang perniagaan atau pekerjaan, mereka juga bermula dari kosong untuk mencapai kejayaan. Di zaman sekarang ini, ramai orang ingin berjaya dengan jalan pintas, tak peduli walaupun dengan cara yang tidak halal. Ketika melamar pekerjaan, orang mahu diberikan jawatan tinggi atau gaji yang besar. Begitu pula dalam hal melayani pekerjaan Tuhan, ramai orang inginkan jawatan  yang lebih besar di dalam organisasi.

Sebelum kita layak untuk menerima sebuah kepercayaan, mahu tidak mahu, kita harus terlebih dahulu melalui proses dari bawah. Kita tidak secara tiba-tiba berada di puncak. Ada ujian kesetiaan, ujian ketekunan dan ujian kesabaran dalam melakukan perkara-perkara kecil. Adakalanya kita terpaksa melalui pengalaman pahit atau situasi sukar yang sangat menyakitkan, namun kita tidak boleh berputus asa, kita harus terus melangkah dan melangkah dan tetap melakukan apa yang menjadi bahagian kita, tanpa ada rungutan.

Kiranya Tuhan memberkati!

Isnin, 19 November 2018

Renungan Petang Isnin, 19 November 2018



Renungan Petang
Isnin, 19 November 2018

Seperti Pencuri Pada Waktu Malam

"karena kamu sendiri tahu benar-benar, bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri pada malam." 1 Tesalonika 5:2

Setiap hari kita mendengar atau membaca tentang berita-berita yang menggemparkan, mulai dari berita tentang pembunuhan, kemalangan jalan raya, keganasan dan sebagainya. Dari kejadian-kejadian tersebut ramai orang menjadi korban. Kematian adalah suatu realiti yang tidak dapat dielakkan oleh semua orang. Cepat atau lambat kematian pasti akan menjemput. Semua manusia, siapa pun dia, pada suatu saat pasti akan mati. Itu ketetapan Tuhan yang tidak dapat dihindari.

Kita boleh membuat sejuta rancangan yang akan kita lakukan, kita tidak akan puas tetapi kematian boleh menghentikan semua rancangan ini. Hari ini mungkin kita masih dalam keadaan sihat dan mungkin esok hari, siapa yang tahu? Penyakit, bencana, kematian atau hal-hal yang tak terduga boleh menghampiri terlalu dekat dengan kita. Oleh itu, "Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu." (Amsal 27:1).

Yang patut direnungkan adalah ada apa selepas kematian itu? Alkitab memberikan jawaban secara pasti, "Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi,"  (Ibrani 9:27). Jadi ada penghakiman setelah kematian. Apa yang harus kita lakukan selama masih hidup atau sebelum kematian menjemput? Rasul Paulus menasihati jemaat di Tesalonika, "Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar." (1 Tesalonika 5:6).

Maksudnya dalam apapun keadaan, kita harus dalam posisi siap-sedia, sedar secara rohani dan menguasai diri dalam segala hal. Jangan sampai kita tertidur atau mabuk secara rohani. "Sebab mereka yang tidur, tidur waktu malam dan mereka yang mabuk, mabuk waktu malam." (1 Tesalonika 5:7). Persiapkanlah diri sebaik mungkin sebelum Tuhan memanggil kita pulang.

Sabtu, 17 November 2018

Renungan Petang Ahad, 18 November 2018



Renungan Petang
Ahad, 18 November 2018

Di Dalam Yesus Kita Katakan "Ya"

"Sebab Kristus adalah 'ya' bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan 'Amin' untuk memuliakan Allah." 2 Korintus 1:20

Kebimbangan adalah salah satu faktor penghalang untuk memperolehi apa yang dijanjikan Tuhan. "...orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan."  (Yakobus 1:6-7). Kebimbangan yang masih bermain di dalam hati dan fikiran seperti kehidupan yang tidak bertapak di dasar. Kehidupan seperti ini adalah sukar menerima sesuatu dari Tuhan.

Tuhan Yesus menegaskan, "Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya." (Markus 11:23). Bila kita ingin melihat dan mengalami perkara-perkara yang dahsyat dinyatakan di dalam kehidupan kita, jauhkan diri dari segala kebimbangan dan katakan 'ya' di dalam hati kepada Yesus.

Masih ada orang percaya yang berfikir bahawa janji-janji Tuhan itu bohong atau palsu kerana sudah sekian tahun lama mengikut Yesus namun kehidupannya tidak mengalami perubahan yang lebih baik. Bagaimana dan mengapa janji-janji firman Tuhan tidak digenapi dalam hidupnya? Apakah dia ragu-ragu dan bimbang? Apakah di dalam hati dan fikiran mengatakan 'ya' tetapi 'tidak' kepada Tuhan. Dua hati untuk percaya? 'Ya dan tidak'  sama sekali tak dapat digabungkan, sama seperti terang dan gelap, "...bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?" (2 Korintus 6:14).

Bila kita berdoa meminta sesuatu kepada Tuhan, kita harus yakin dan bayangkan bahawa kita sudah menerimanya. "...apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." (Markus 11:24). Mengapa demikian? Sebab "...di dalam Dia hanya ada 'ya'." (2 Korintus 1:19), dan "Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?" (Bilangan 23:19).

Oleh itu, peganglah kebenaran firman Tuhan ini, dan percayalah bahawa cepat atau lambat janji-Nya pasti digenapi. Kiranya Tuhan memberkati!

Jumaat, 16 November 2018

Renungan Petang Sabat, 17 November 2018



Renungan Petang
Sabat, 17 November 2018

Campur Tangan Tuhan

"Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga." Mazmur 127:1

Kejayaan seseorang di dalam kehidupan ini ditentukan oleh berbagai faktor. Bermula dari sebuah impian atau cita-cita, ketekunan, kesungguhan, kerja keras, kecekapan, sikap yang tidak mudah putus asa, orang-orang di sekitarnya dan banyak lagi.  Namun semua ini tidak akan bermakna apa-apa tanpa campur tangan Tuhan.

Salomo adalah anak Daud dan juga raja, mengakui kebesaran Tuhan. Oleh itu, kita perlu penuh penyerahan diri kepada Tuhan, hati yang sentiasa mendekat kepada-Nya, dan hati yang sentiasa selaras dengan kehendak Tuhan, itulah yang akan memimpin seseorang kepada sebuah pencapaian cita-cita, impian dan harapan. Jika Tuhan menyelidiki bumi untuk mencari pemimpin, Dia tidak mencari orang dengan kreteria-kreteria jasmani sebagaimana manusia biasa pilih dan nilai sesamanya.

"Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia." (2 Tawarikh 16:9).  Kalau kita memilih dan menilai seseorang dari apa yang dilihat secara kasar mata, kita pasti akan kecewa kerana apa yang kelihatan dari luar boleh mengaburi dan menipu. Ketika Tuhan mencari pemimpin, Dia hanya mencari orang-orang yang memenuhi kreteria-Nya yang boleh dikembangkan, yang memiliki kualiti tertentu, seperti Dia temukan di dalam diri Daud, raja Israel.

"Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku." (Kisah 13:22). Kualiti utama yang Tuhan lihat dalam diri Daud adalah hatinya. Hati Daud sentiasa mendekat kepada Tuhan. Hidupnya berkenan kepada Tuhan dan sentiasa taat melakukan kehendak-Nya. 

Tuhan mencari orang-orang yang hatinya sentiasa berpaut kepada-Nya, hati yang terlepas dari segala bentuk kejahatan. "...sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita." 1 Tawarikh 28:9.

Kiranya Tuhan memberkati!

Khamis, 15 November 2018

Renungan Petang Jumaat, 16 November 2018



Renungan Petang
Jumaat, 16 November 2018

Menjadi Sahabat Yesus

"Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu." Yohanes 15:14

Tuhan menginginkan agar setiap orang percaya semakin hari semakin baik hubungan denganNya, semakin hari semakin intim dan karib dengan Dia seperti hubungan seorang sahabat. Tuhan mahu kita menjadi sahabat-sahabatNya. Orang yang menjadi sahabat Kristus adalah orang yang sentiasa bergaul karib dengan Dia, seia dan sekata dalam keadaan baik mahupun duka.

Menjadi sahabat bermaksud lebih dari sekadar kawan biasa. Kedua-duanya sudah saling mengenali dari luar dan dalam, saling memahami dan saling berbahagi. Ada unsur kesetiaan dan juga komitmen. Hubungan persahabatan itu adalah hubungan yang sangat istimewa atau khusus, di mana kedua-dua berbahagi isi hati, bahkan tidak ada hal yang dirahsiakan.

Penulis Amsal menggambarkan, "Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran." (Amsal 17:17), dan "...ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara." (Amsal 18:24). Itulah maksudnya seorang sahabat. Yesus berkata, "Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku." (Yohanes 15:14-15).

Ketika kita belajar menjadi sahabat Yesus, kita sedang belajar untuk mengenali dan memahami isi hati, fikiran, perasaan dan juga kehendakNya.  Bagaimana kita boleh mengenali dan memahami isi hati, fikiran, perasaan, dan kehendak Tuhan? Iaitu melalui firmanNya. Kita harus tinggal di dalam firmanNya, maksudnya kita tidak lupa memperkatakan kitab Taurat tersebut, merenungkan itu siang dan malam dan bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya. (baca Yosua 1:8).

Seberapa dekat hubungan kita dengan Tuhan?  Apakah kita mendekat kepadaNya hanya ketika sedang dalam masalah yang berat? Atau adakah kekariban kita dengan Tuhan seperti hubungan di antara sahabat dalam setiap waktu? Sudahkah kita layak disebut sebagai sahabat Kristus? "TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka."  Mazmur 25:14.

Kiranya Tuhan memberkati!

Rabu, 14 November 2018

Renungan Petang Khamis, 15 November 2018



Renungan Petang
Khamis, 15 November 2018

Dipengaruhi Keadaan Sekeliling

"Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku." Amsal 30:9

Tak dapat dinafikan perubahan status sosial atau tahap ekonomi seseorang seringkali mempengaruhi sikap dan gaya hidupnya. Ketika hidup dalam kesederhanaan, tidak banyak hal yang dituntut di dalam kehidupannya. Banyak atau sedikit berkat yang diterima, dari hati tetap mengucapkan syukur seperti yang rasul Paulus katakan, "...aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan." (Filipi 4:11), dan "Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah." (1 Timotius 6:8).

Dalam situasi sebegini kehidupan rohaninya dalam keadaan terjaga dengan baik. Berdoa dan membaca Alkitab dilakukan secara tekun, masa kebaktian tidal pernah ditinggalkan dan giat melayani pekerjaan Tuhan. Seiringan dengan berjalannya waktu, ketika semua dalam keadaan baik, tanpa sedar perubahan pun terjadi. Gaya hidup dan sikap hati berubah secara mendadak.

Si suami semakin sibuk dengan tugasan di pejabat yang memaksanya untuk pulang selalu lewat dan isteri mulai mencari kesibukan lain untuk mengusir rasa sepi di rumah. Kelihatannya, anak menjadi kurang perhatian dan suka memberontak.  Kehidupan rohani pun mula berubah dan semakin merosot. Tidak lagi dianggap penting, kebaktian rohani sering ditinggalkan, dan akhirnya hubungan dengan Tuhan pun menjadi renggang.

Mengapa? Mereka merasa tidak lagi memerlukan Tuhan kerana apa yang diperlukan sudah tersedia sehingga tak perlu lagi berdoa dengan sungguh-sungguh. Rupa-rupanya, bukan hanya ketika di dalam kekurangan orang boleh meninggalkan Tuhan tetapi dalam keadaan keadaan baik dan aman ada ramai orang meninggalkan Tuhan. Mereka terlena, tidak fokus dan lupa diri.

Berkat berkelimpah boleh menjadi ruang bagi Iblis untuk memerangkap kehidupan seseorang, kemudian dia mencondongkan hatinya kepada harta dan tidak lagi tertuju kepada Tuhan. "Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah memulai dengan Roh, mahukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging?" Galatia 3:3. Ingatlah kepadaNya tak kira baik atau susah. Kiranya Tuhan memberkati!

Renungan Petang Rabu, 14 November 2018




Renungan Petang
Rabu, 14 November 2018

Hati Yang Gelisah

"Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!" Mazmur 43:5

Rasa gelisah adalah perasaan yang dialami oleh semua orang. Gelisah bermaksud tidak tenteram, suasana hati yang selalu merasa khuatir, tidur tidak tenang dan tidak sabar dalam hal menanti. Jika memperhatikan situasi akhir-akhir ini, tidaklah menghairankan begitu ramai orang hidup dalam kegelisahan.

Jika terjadi hujan lebat kita yang tinggal di tebing sungai diliputi kegelisahan kerana takut banjir melanda dan mereka yang tinggal di lereng-lereng bukit takut berlakunya runtuhan. Bukan hanya itu, para isteri hatinya selalu diliputi rasa gelisah ketika melihat suaminya sering terlambat pulang dari pejabat tanpa ada alasan yang jelas. Sungguh benar yang Ayub katakan, "Manusia yang lahir dari perempuan, singkat umurnya dan penuh kegelisahan." (Ayub 14:1).

Kegelisahan juga pernah dialami oleh murid-murid ketika mendengar bahawa Gurunya akan pergi meninggalkan mereka, walhal Tuhan Yesus tidak mengatakan bahawa Dia pergi dan takkan kembali, melainkan Dia akan pergi dan segera kembali.  Melihat hal itu, berkatalah Tuhan kepada mereka:

"Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku... Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada." (Yohanes 14:1-3).  Tuhan Yesus telah memberi jalan untuk kita terlepas dari rasa gelisah iaitu, percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.

Apakah anda pada saat ini sedang dalam kegelisahan kerana ditekan masalah berat? Segeralah datang kepada Yesus dan percayalah kepada-Nya kerana Dia adalah jalan dan kebenaran dan hidup  (baca  Yohanes 14:6). Ketika bertemu dengan Yesus, seorang perempuan Samaria mengalami pemulihan hidup karena dia telah menemukan jawaban dan jalan keluar dari permasalahan yang selama ini dia cari. Dan kepada Lazarus, Yesus telah membuktikan bahawa Dia adalah Sumber hidup.

Kegelisahan takkan melanda jika kita benar-benar menyerahkan semua permasalahan hidup kita kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya. Tuhan memberkati!

Isnin, 12 November 2018

Renungan Petang Selasa, 13 November 2018



Renungan Petang
Selasa, 13 November 2018

Membuang Segala Dosa

"Haruslah kamu menduduki negeri itu dan diam di sana, sebab kepadamulah Kuberikan negeri itu untuk diduduki." Bilangan 33:53

Ketika itu orang-orang Israel sudah berada di dataran Moab, di tepi sungai Yordan dekat Yerikho. Hanya sedikit waktu lagi mereka akan memasuki tanah Kanaan. Kanaan adalah tempat atau lokasi yang dijanjikan Tuhan untuk diberikan kepada Abraham dan keturunannya, atau disebut Tanah Perjanjian.

"Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka." (Kejadian 17:8). Sebuah tempat yang baik dan luas, serta berlimpah-limpah susu dan madunya (baca  Keluaran 3:8). Mungkin ini adalah sukacita terbesar yang pernah dirasakan oleh umat Israel setelah lebih kurang 40 tahun lamanya mereka harus menempuhi perjalanan sampai ke tempat tersebut.

Tetapi sebelum memasuki tanah Kanaan mereka harus bersedia berhadapan dengan bangsa lain yang menduduki Kanaan, yang mana penduduknya adalah penyembah berhala. Oleh itu, Tuhan memerintahkan bangsa Isreal untuk menghalau semua penduduk, membinasakan segala patung tuangan dan memusnahkan bukit-bukit penyembahan berhala (Bilangan 33:52).

Mengapa? Kerana "...mereka akan menjadi seperti selumbar di matamu dan seperti duri yang menusuk lambungmu, dan mereka akan menyesatkan kamu di negeri yang kamu diami itu." (Bilangan 33:55). Maksudnya jika bangsa yang ada di Kanaan itu tidak ditumpaskan, cepat atau lambat akan membawa pengaruh negatif dan menjadi jerat bagi bangsa Israel sendiri, terutama dalam hal rohani, sebab orang-orang di Kanaan menyembah kepada dewa-dewa (berhala).

Kunci untuk mengalami berkat-berkat Tuhan adalah harus membuang semua dosa dan segala hal yang menghalangi kita untuk dekat kepada-Nya. Setelah itu barulah bangsa Israel dapat menduduki tempat itu dan tinggal di sana. Menduduki maksudnya, bukan sekadar tinggal di sana, tetapi juga mengurus, mengusaha, mengembangkan potensi yang ada, serta mempertahankan sedemikian rupa.

Janji Tuhan pasti akan digenapi, asalkan kita hidup taat melakukan kehendak-Nya. Kiranya Tuhan memberkati!

Ahad, 11 November 2018

Renungan Petang Isnin, 12 November 2018




Renungan Petang
Isnin, 12 November 2018

Hanya Tuhan Sahaja Yang Mampu

"Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi." Mazmur 121:2

Ada ramai orang percaya yang mudah sekali putus asa ketika berhadapan dengan masalah hidup yang berat kerana mereka berfikir Tuhan tidak mempedulikan hidupnya. Itu salah besar. Tidak pernah sekalipun Tuhan meninggalkan dan membiarkan umat-Nya sendirian. Tuhan berkata, "Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu." (Yesaya 46:4).

Pemazmur menegaskan bahawa Penjaga Israel tidak terlelap dan tidak tertidur (Mazmur 121:4). Jika Tuhan mengizinkan kita melalui masa-masa yang sukar, maksudnya Dia sedang melatih kita untuk bergantung penuh kepada-Nya. Jangan pernah lari dari proses pembentukan Tuhan. Mungkin terasa sakit tetapi mendatangkan kebaikan bagi kita, sebab proses memerlukan waktu dan ketekunan.

"Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu." (Ibrani 10:36).  Berbeza sekali dengan dunia yang selalu menawarkan segala sesuatu yang serba cepat iaitu, pertolongan, wang kekayaan, jawatan atau populariti. Sesukar apa pun keadaan, tetap arahkan pandangan hanya kepada Tuhan. Kalau kita rasakan Tuhan terlalu jauh dari hidup ini, kita harus tetap beriman dengan kebenaran ini: "Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu." (Mazmur 121:5).

Sampai di hujung dunia mana pun kita takkan pernah menemukan pertolongan dan perlindungan yang sempurna. Dapatkah kita menjaga dan melindungi keluarga kita selama 24 jam penuh setiap hari? Tidak akan dapat. Perhatikan janji-Nya, "Matahari tidak menyakiti engkau pada waktu siang, atau bulan pada waktu malam. TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu. TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya." (Mazmur 121:6-8).

Pertolongan dan perlindungan yang sempurna hanya kita dapatkan di dalam Tuhan kerana Dia Tuhan yang tidak pernah terlelap. Tuhan memberkati anda!

Sabtu, 10 November 2018

Renungan Petang Ahad, 11 November 2018



Renungan Petang
Ahad, 11 November 2018

Semangat Yang Hilang

"Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana." 1 Raja-Raja 19:3

Siapa di antara kita yang kebal dengan masalah? Saya rasa tidak ada. Semua tak terkecuali. Kita sebagai anggota gereja mahupun pendeta juga pernah mengalami masalah. Tetapi persoalannya, bagaimana respon dan tindakan kita terhadap masalah yang timbul. Musa juga mengakui bahawa masalah, kesusahan dan penderitaan adalah bahagian hidup sehari-hari dan itulah kebanggaan hidup manusia (baca Mazmur 90:10).

Namun orang percaya tak boleh menyerah kalah dan berputus asa kerana, "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya." (1 Korintus 10:13).

Bukan perihal besar atau kecil, berat atau ringan masalah yang dihadapi tetapi yang penting adalah bagaimana respon dan tindakan kita ketika berhadapan dengan masalah itu. Apakah kita berputus asa dan patah semangat? Ini adalah tindakan yang akan semakin menenggelamkan kita ke dalam jurang permasalahan yang dalam. Untuk menjadi pemenang di dalam masalah yang timbul, kita harus bertahan, bersemangat dan bertindak mengikut kehendakNya.

Walaupun Elua berstatus sebagai nabi Tuhan, dia juga pernah mengalami masalah yang membuatnya hilang semangat dalam menjalani kehidupan. Walhal sebelum itu, Elia meraih kemenangan besar di gunung Karmel di mana berjaya membunuh 450 nabi baal. Ketika berita itu sampai ke Izebel, "maka Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: 'Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu.'" (1 Raja-Raja 19:2).

Kerana ancaman Izebel ini, Elia pun menjadi sangat takut dan dia lari untuk menyelamatkan diri ke gunung Horeb. Keadaan Elia benar-benar berubah, selain lelah secara jasmani dan setelah menempuhi perjalanan sepanjang 40 hari 40 malam, dia juga mengalami kelelahan secara rohani yang membuatnya putus asa dan hilang semangat. Apakah Elia sudah melupakan Tuhan?

"Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?" Amsal 18:14. Jika kita di dalam permasalahan, jangan lupa ada tangan Tuhan yang bersedia menyelamatkan anda. Berserulah hanya kepadaNya. Kiranya Tuhan memberkati!

Jumaat, 9 November 2018

Renungan Petang Sabat, 10 November 2018




Renungan Petang
Sabat, 10 November 2018

Jangan Terjerat Dengan Ketamakan

"Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!" Lukas 12:19

Orang yang tidak pernah merasa puas dengan kekayaan yang dimiliki akan terus berusaha mendapatkan kekayaan lebih dan lebih lagi. Oleh kerana tidak pernah merasa cukup dan apabila dia tidak mampu mengawal diri, dia akan terjerat dalam ketamakan. Tamak maksudnya selalu ingin memperolehi lebih banyak untuk diri sendiri atau rakus. Tamak terhadap harta kekayaan adalah salah satu penyakit yang sangat membahayakan kehidupan manusia.

Tamak menyebabkan dengki, permusuhan, perbuatan keji, dusta, curang dan menjauhkan pelakunya dari kesetiaan kepada Tuhan. Bermula dari mengejar kekayaan, orang mula terdedah kepada dosa. "Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan." (1 Timotius 6:9). Kekayaan harta itu bersifat sementara, tidak kekal, barang fana dan sekejap mata akan lenyap.

Kekayaan tidak menjamin keselamatan jiwa. Apalah gunanya orang memiliki kekayaan harta yang berlimpah-limpah jika pada akhirnya mengalami kebinasaan kekal? "...sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." (Lukas 12:15). Yesus berkata, "...sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga." (Matius 19:23).

Ayub juga menyedari: "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya." (Ayub 1:21), maksudnya kita tidak membawa apa-apa saat datang ke dalam dunia dan kita pun tidak akan membawa apa pun juga saat meninggalkan dunia (baca 1 Timotius 6:7).

Jangan terlalu asyik mengumpulkan harta kekayaan di bumi sehingga kita lalai untuk mengumpulkan harta yang sesungguhnya iaitu, harga Syurgawi. Jangan sampai kita mengutamakan perkara-perkara duniawi lalu mengabaikan perkara-perkara rohani. "Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada." (Matius 6:21).

Tamak akan kekayaan hanya akan membawa seseorang kepada kebinasaan. Ketika diberkati dengan kekayaan melimpah seharusnya semakin kaya dalam kebajikan. Kiranya Tuhan memberkati!

Khamis, 8 November 2018

Renungan Petang Jumaat, 09 November 2018



Renungan Petang
Jumaat, 09 November 2018

Waspadalah Terhadap Ketamakan

"Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." Lukas 12:15

Apakah benar kekayaan itu sesuatu yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia? Dengan kekayaan orang dapat memenuhi keinginannya. Sebagai manusia biasa ini adalah wajar, bukan? Bukanlah dosa mempunyai kekayaan kerana Alkitab tidak pernah melarang umat-Nya memiliki kekayaan yang berlimpah (menjadi kaya). Tuhan Yesus berkata, "Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." (Yohanes 10:10).

Namun harus diingatkan bagaimana cara memperolehi kekayaan atau menjadi orang kaya, kerana cara orang mengurus kekayaan itu akan menentukan sikapnya terhadap kekayaan itu sendiri. Harus ada kesedaran diri untuk lebih berhati-hati dengan bahaya atau ancaman dari kekayaan tersebut.

Kekayaan tidak pernah memberikan kepuasan atau rasa lebih daripada cukup. "Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia. Dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya. Dan apakah keuntungan pemiliknya selain dari pada melihatnya?" (Pengkhotbah 5:9-10).

Rasul Paulus mengajarkan kepada kita agar sentiasa memiliki rasa cukup dan berpuas hati. "Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah." (1 Timotius 6:6-8).

Rasa cukup diterjemahkan dari kata Yunani  (autarkeias) yang bermaksud kepuasan batiniah yang membuat seseorang menjadi bahagia dengan apa yang dimilikinya. Rasul Paulus berkata, "...sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan." (Filipi 4:11). Yesus juga mengajarkan konsep rasa cukup ini (Matius 6:11).

Jadi sesungguhnya rasa cukup itu tidak bergantung kepada seberapa banyak kekayaan harta yang dimiliki, melainkan bagaiman sikap hati orang terhadap kekayaan yang ada padanya. Ada ramai orang yang memiliki kekayaan yang banyak tetapi tak pernah merasa cukup. Belajarlah bersyukur dengan yang ada pada kita. Itulah pemberian Tuhan kepada kita.

Tuhan memberkati!

Renungan Petang Khamis, 08 November 2018




Renungan Petang
Khamis, 08 November 2018

Belum Sampai Masanya

"Janganlah terlalu fasik, janganlah bodoh! Mengapa engkau mau mati sebelum waktumu?" Pengkhotbah 7:17

Bunuh diri adalah sebuah tindakan sengaja yang menyebabkan kematian diri sendiri. Bunuh diri seringkali dilakukan oleh orang yang berputus asa, tertekan, putus cinta, menanggung beban hidup yang teramat berat, pertengkaran dalam rumahtangga, atau rasa malu yang terlampau besar. Orang yang mengambil keputusan untuk bunuh diri seringkali tidak sedar diri ketika dia ingin melakukannya  (tindakan bunuh diri), sebab dalam kehidupan sehari-hari tidak menunjukkan suatu gejala atau tanda yang menjurus ke arah perbuatan nekad tersebut.

Ada kalanya orang yang sangat kaya atau terkenal boleh juga nekad melakukan tindakan bunuh diri kerana masalah yang tidak dapat ditanggung. Orang yang bunuh diri maksudnya telah melepaskan satu pemberian Tuhan yang sangat besar iaitu, kehidupan. Kita tahu bahawa sehebat apa pun manusia dan secanggih apa pun teknologi yang ada di dunia ini tidak akan mampu menciptakan nafas kehidupan (nyawa) bagi manusia. Bunuh diri bermaksud membuang kesempatan yang Tuhan berikan, tidak menghargai pemberian dan karya Tuhan dalam hidupnya.

Seberat apa pun masalah yang dialami tidak seharusnya manusia melakukan tindakan yang tidak sepatutnya. Ingat, Tuhan sentiasa ada dalam setiap waktu. Panggillah Yesus dengan berdoa. Dia datang memberi penghiburan dan kekuatan. "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu."  (Matius 11:28). Bunuh diri adalah perbuatan yang sudah lupa akan nama dan kebesaran Tuhan. Juga telah merosakan dan menggagalkan rencana Tuhan dalam kehidupannya.

Sekalipun berat masalah yang kita alami, pasti ada jalan keluarnya, asalkan kita mahu datang kepada Tuhan dan meminta pertolongan-Nya. Tuhan sentiasa memberkatimu!

Rabu, 7 November 2018

Renungan Petang Rabu, 07 November 2018



Renungan Petang
Rabu, 07 November 2018

Tuhan Yang Memberikan Kekuatan

"ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku." Habakuk 3:19

Rusa adalah binatang yang lemah tetapi kekuatan kaki-kakinya sangat mengagumkan kerana mampu menjejakkan kaki di atas bukit berbatu dengan begitu lincah, melalui halangan hingga akhirnya sampai ke tempat tinggi dan jauh di atas puncak bukit. Itulah sebabnya rusa kerap kali digunakan di dalam Alkitab untuk menggambarkan kekuatan dan daya tahan yang diberikan Tuhan bagi orang percaya untuk menghadapi masa-masa yang sukar dalam kehidupan.

Habakuk mempunyai alasan untuk lemah semangat dan putus asa: "Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang," (ayat 17), yang adalah gambaran suatu keadaan yang sangat memprihatinkan, "namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN," (ayat 18).

Habakuk mampu bertahan ketika sedang dalam kesukaran kerana dia sentiasa memandang Tuhan dan mengutamakan-Nya. Tuhan adalah sumber kekuatan dalam kehidupan Habakuk. Jika Tuhan yang menyertai Habakuk, saya dan anda, tidak ada perkara yang mustahil. Tuhan lebih daripada mampu untuk memberikan kita kekuatan

Semua orang mengakui bahawa hidup di zaman ini sangatlah sukar seperti melalui suatu perjalanan di padang gurun, melalui batuan kerikil, batuan tajam dan sukar. Sebagaimana rusa adalah binatang lemah, kita juga adalah manusia lemah, kekuatan yang terhad dan terdedah kepada bahaya. Jika rusa yang secara fizikal tergolong sebagai haiwan yang lemah, namun memiliki kaki yang mampu menjejak kaki di atas bebatuan dan jalan-jalan sukar dengan begitu bertenaga sekali.

Adakah perkara yang sukar bagi orang percaya? Ada, tetapi bersama dengan Tuhan kita pasti mampu melakukannya kerana "Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan," (Efesus 3:20). Bersama Tuhan kita beroleh kekuatan untuk menghadapi semuanya, malahan boleh membuat kita seperti rusa yang mampu menjejakkan kaki di atas batu-batuan masalah. Oleh itu, jangan pernah menyerah kalah atau patah semangat kepada keadaan yang berat sekali pun!

"Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." Filipi 4:13. Tuhan memberkati!

Isnin, 5 November 2018

Renungan Petang Selasa, 06 November 2018




Renungan Petang
Selasa, 06 November 2018

Tidak Melihat Kebenaran

"Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang." Matius 15:14

Dari kecil sehinggalah besar, saya sering melihat seorang lelaki yang cacat penglihatannya, bersama dengan anaknya setiap hari rabu di Pekan Tamparuli. Dia mempunyai kebolehan bernyanyi sambil memetik gitar. Walaupun buta, dia masih dapat bermain gitar dengan begitu baik. Dia cacat penglihatan namun mampu mempamerkan persembahannya tanpa sebarang masalah. Usahanya yang gigih membuat kehidupannya lebih baik dari langsung tak berusaha, bahkan mungkin lebih baik dari orang yang normal penglihatan.

Pernyataan tegas disampaikan Yesus untuk menyindir keberadaan orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang secara lahiriah memiliki mata yang normal atau dapat melihat, tetapi sesungguhnya mereka mengalami kebutaan rohani, sehingga tidak dapat melihat kebenaran. "Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia." (ayat 8-9).

Mereka tahu tentang kebenaran secara terperinci, memiliki ilmu teologi yang sangat tinggi, malahan bijak mengajar orang lain, namun yang menyedihkan mereka sendiri tidak hidup dalam kebenaran. Apalah makna semuanya itu? Jika mereka sendiri tidak hidup dalam kebenaran bagaimana mungkin membawa orang lain kepada kebenaran? Bagaimana mungkin menjadi berkat atau kesaksian bagi orang lain? Mungkin hanya boleh menjadi batu sandungan sahaja?

"Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya."  (Matius 23:3).

Alkitab menyatakan bahawa setiap orang yang belum mengenal Kristus disebut sebagai orang-orang yang masih buta rohaninya kerana mereka belum melihat terang, sebab Kristus adalah terang itu sendiri  (baca Yohanes 8:12). Tetapi ada pula orang-orang yang sudah tahu kebenaran, mendengar berita Injil tetapi tidak mahu percaya kerana, "...pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah." (2 Korintus 4:4).

Sebagai orang percaya, yang telah menerima terang Kristus dan firman-Nya, seharusnya kita memiliki kehidupan yang memancarkan terang bagi orang lain, sehingga orang lain dapat 'melihat'  kebenaran itu melalui kita.

Kiranya Tuhan memberkati!

Renungan Petang Isnin, 05 November 2018




Renungan Petang
Isnin, 05 November 2018

Akan Tibanya Kematian

"Ya TUHAN, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, supaya aku mengetahui betapa fananya aku!" (Mazmur 39:5).

Dari pernyataan Daud ini dapat disimpulkan bahawa umur manusia ada hadnya. "Sungguh, hanya beberapa telapak saja Kautentukan umurku; bagi-Mu hidupku seperti sesuatu yang hampa. Ya, setiap manusia hanyalah kesia-siaan!" (Mazmur 39:6).  Musa juga sedar akan hal ini, "Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun,"  (Mazmur 90:10). Cepat atau lambat, bersedia atau tidak suatu hari nanti manusia pasti akan berhadapan dengan kematian.

Kematian adalah sesuatu yang menakutkan dan mengerikan bagi orang-orang di luar Tuhan. Tetapi bagi orang percaya, kematian adalah sesuatu yang membahagiakan. Bagaimana mungkin? Ada tertulis: "'Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini.' 'Sungguh,' kata Roh, 'supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.'" (Wahyu 14:13).

Kematian memberi kesempatan kepada orang percaya untuk beristirehat dengan tenang, terbebas dari segala masalah hidup dan tidak ada lagi air mata. Dalam kematiannya orang percaya sesungguhnya sedang menunggu untuk dibangkitkan dan diangkat pada waktu kedatangan Kristus yang kedua kalinya.

"Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit; sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan. Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini."  (1 Tesalonika 4:16-18).

Sebelum waktu itu tiba, adalah bijak bagi kita untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin supaya hal itu tidak menjadi jerat. "Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba." (Pengkhotbah 9:12).

Selagi ada waktu dan kesempatan, kumpulkan harta di Syurga dan bukan harta dunaiwi. Kiranya, Tuhan memberkati!

Ahad, 4 November 2018

Renungan Petang Ahad, 04 November 2018



Renungan Petang
Ahad, 04 November 2018

Tuhan Sanggup Menyembuhkan

"Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit." Matius 14:14

Jika sampai ke hari ini, kita masih dapat bernafas, menghirup udara segar setiap pagi, diberikan kesihatan tubuh badan dan masih mempunyai kesempatan untuk melakukan aktiviti harian, melaksanakan semua yang telah diamanahkan-Nya, itu semata-mata kasih Tuhan yang tak terkata. "Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" (Ratapan 3:22-23).

Di sudut lain, ada Saudara kita yang sedang terkulai lemah tak berdaya kerana penyakit yang dideritanya.  Hari-hari yang dilaluinya kelihatan kelabu dan sepertinya ditutup oleh awan tebal. Hati kecilnya pun bertanya-tanya, "masih adakah harapan bagiku untuk melihat hari esok?". Di dalam Tuhan selalu ada harapan. Sebab kita mempunyai Tuhan yang adalah Sang Penyembuh. Semuanya itu terjadi mengikut kehendak-Nya.

Orang beroleh kesembuhan dari Tuhan bukan kerana dia aktif dalam pelayanan, orang kaya atau berpangkat, bukan juga dia memiliki wajah yang rupawan, dia hebat dan pintar, melainkan kerana belas kasihan Tuhan. Perhatikan dua kisah ini:

Ada dua orang buta yang duduk di pinggir jalan dan berserulah mereka kepada Tuhan: "Tuhan, Anak Daud, kasihanilah kami!" (Matius 20:30). Lalu, tergeraklah hati Tuhan oleh belas kasihan, "...lalu Ia menjamah mata mereka dan seketika itu juga mereka melihat lalu mengikuti Dia." (Matius 20:34).

Juga, seorang pesakit kusta datang kepada Tuhan dan berlutut di hadapan-Nya: "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku. Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu... Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir." (Markus 1:40-42).

Belas kasihan Tuhan adalah pintu menuju kepada kesembuhan dan pemulihan. Mungkin bukan secara fizikal kita yang sakit tetapi ekonomi kita sedang sakit, hubungan suami-isteri sedang sakit dan pelayanan kita sedang sakit. Tak ada jalan lain selain kita harus datang kepada Tuhan dengan penuh kerendahan hati dan memohon belas kasihan-Nya.

"Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati." Roma 9:15. Kiranya Tuhan memberkati!

Sabtu, 3 November 2018

Renungan Petang Sabat, 03 November 2018



Renungan Petang
Sabat, 03 November 2018

Hakim Yang Adil

"Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. Barangsiapa tidak menghormati Anak, ia juga tidak menghormati Bapa, yang mengutus Dia." Yohanes 5:22-23

Masih adakah keadilan di dunia ini? Terlalu banyak kes mahkamah yang berakhir dengan kemenangan di pihak orang bersalah yang mempunyai wang dan kuasa, sementara orang yang tidak bersalah terpaksa mengalah kerana tidak ada yang membela. Di zaman ini sungguh tak dapat dinafikan bahawa wang dan kuasa seringkali menjadi penentu kebenaran dan keadilan manusia.

Selagi kita masih hidup mungkin kita boleh tertawa lebar dan bersukacita di atas penderitaan orang lain tetapi akan datang waktunya keadilan dan kebenaran ditegakkan. Alkitab menyatakan bahawa Tuhan adalah Hakim yang adil, yang mana keadilan-Nya akan membalas setiap perbuatan manusia. Setiap ketaatan dan ketidaktaatan pasti mendapatkan ganjaran.

Ketika mendengar kata penghakiman jangan pernah beranggapan hanya dosa-dosa berat saja yang akan dihakimi tetapi perkataan sia-sia pun tak terlepas. Semua perbuatan dosa adalah sama dihadapan Tuhan. Dia berkata, "Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum." (Matius 12:36-37).

Penghakiman ke atas seluruh manusia telah diserahkan Bapa kepada Anak-Nya, Yesus Kristus. "Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya." (Matius 13:41).

Ketika itulah semua manusia akan terkejut dan sangat menyesal kerana mereka akan melihat Yesus Kristus duduk di takhta penghakiman kerana selama hidup di dunia mereka menolak, membenci, menghujat dan tidak percaya kepada-Nya sebagai Tuhan dan Juruselamat.

"Sesungguhnya barangsiapa mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup." Yohanes 5:24.

Kiranya Tuhan memberkati.

Jumaat, 2 November 2018

Renungan Petang Jumaat, 02 November 2018



Renungan Petang
Jumaat, 02 November 2018

Yesus Memberikan Kesembuhan

"Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya." Markus 5:29

Walaupun usaha gigih selama ini menemui jalan buntu, perempuan yang mengalami pendarahan selama dua belas tahun itu tidak patah semangat. Setelah mendengar dan melihat Yesus sedang berjalan ke arahnya, perempuan itu tidak mensia-siakan kesempatan. Sekalipun fizikalnya lemah dan Yesus sedang dikelilingi oleh kerumunan orang ramai, perempuan itu terus berusaha menjamah jubah-Nya.

Dengan penuh iman perempuan itu berkata, "Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh." (Markus 5:28). Pada saat itu juga mukjizat telah terjadi. "Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya." (ayat Mat. 5:29). Hebat!

Kebiasaannya Yesus menyembuhkan pesakit dengan menumbangkan tangan di kepala tetapi perempuan ini mengalami kesembuhan hanya dengan menyentuh jubah-Nya. Tindakan yang dilakukan oleh perempuan itu membuktikan bahawa dia memiliki iman yang luar biasa. Ada tertulis: "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1).

Tanpa iman tak mungkin orang berkenan kepada Tuhan  (Ibrani 11:6). Maksudnya, jika Tuhan tidak berkenan terhadap seseorang tak mungkin Dia akan bertindak dan menyatakan kuasa-Nya bagi orang tersebut. Berkatalah Tuhan kepada perempuan itu, "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!" (Markus 5:34).

Tanpa iman kita tidak akan mengalami dan merasakan bagaimana Tuhan bekerja secara dahsyat, seperti yang terjadi ke atas penduduk Nazaret. Sekalipun telah mendengar bagaimana Yesus menyembuhkan segala penyakit dan melakukan banyak mukjizat, orang-orang di Nazaret tak mempercayai Dia dan menganggap bahawa Dia  (Yesus) tak lebih dari anak tukang kayu.

"Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Dan karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mujizat diadakan-Nya di situ."  (Matius 13:57a-58). Yesus tidak melakukan banyak mukjizat di Nazaret bukan karena Dia tidak sanggup tetapi kerana orang-orang Nazaret tidak percaya kepada-Nya. Ketidakpercayaan menjadi penghalang untuk mengalami pertolongan Tuhan.

Iman yang teguh adalah pintu kepada kehidupan yang dipulihkan Tuhan. Tuhan memberkati!

Khamis, 1 November 2018

Renungan Petang Khamis, 01 November 2018




Renungan Petang
Khamis, 01 November 2018

Bersabar Dalam Penderitaan

"Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan." Markus 5:25

Tak ada seorang pun mahu hidup dalam penderitaan. Penderitaan, kesusahan, masalah yang datang secara tiba-tiba dan tak terduga waktunya. Hanya mengalami masalah yang kecil, orang boleh mengeluh dan memohon pertolongan.

Ada seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya mengalami sakit pendarahan. Dua belas tahun bukanlah waktu yang singkat dan ini sudah cukup menjelaskan kepada kita tentang penderitaan yang dia rasakan. Apatah lagi di kalangan orang Yahudi pendarahan merupakan suatu hal yang najis.

"Apabila seorang perempuan berhari-hari lamanya mengeluarkan lelehan, yakni lelehan darah yang bukan pada waktu cemar kainnya, atau apabila ia mengeluarkan lelehan lebih lama dari waktu cemar kainnya, maka selama lelehannya yang najis itu perempuan itu adalah seperti pada hari-hari cemar kainnya, yakni ia najis." (Imamat 15:25).

Selain mengalami penderitaan fizikal (keadaan yang semakin memburuk), perempuan ini juga mengalami penderitaan batin yang luar biasa kerana semua orang pasti memandang rendah, menghindari dan menjauhi dia. Pada zaman itu ada peraturan bahawa orang yang sakit seperti ini harus diasingkan dan tidak boleh datang untuk beribadah (Bilangan 5:2-3).

Alkitab juga mencatatkan bahawa ketika perempuan itu datang kepada Yesus, dia dalam keadaan miskin papa kerana harta bendanya sudah habis untuk kos perubatan. Dia suda kemana-mana untuk mencari ramai tabib tetapi tidak membuahkan hasil. "Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya," (Markus 5:26).

Perkataan, 'berulang-ulang' menunjukkan suatu usaha yang dilakukan secara terus-menerus dengan tiada mengenal penat lelah. Demi mendapatkan kesembuhan, dia tidak lagi memperhitungkan berapa besar kos yang harus dikeluarkan. Namun, sekalipun mengalami penderitaan yang begitu hebat, perempuan ini tak pernah berputus asa dan hilang pengharapan.

"Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?" Amsal 18:14. Kiranya Tuhan memberkati!

Rabu, 31 Oktober 2018

Renungan Harian Rabu, 31 Oktober 2018



Renungan Harian
Rabu, 31 Oktober 2018

Janji Harus Ditepati

"Janji-Mu sangat teruji, dan hamba-Mu mencintainya." Mazmur 119:140

Sudah menjadi kebiasaan orang seringkali mengecewakan sesama manusia, salah satunya adalah berkenaan dengan janji. Berapa ramai di antara kita yang kecewa oleh kerana janji yang tidak ditepati atau tidak berlaku jujur. Contohnya soal hutang atau pinjaman, begitu mudahnya seseorang berhutang tetapi tidak untuk membayarnya? Janji tinggal janji dan berakhir dengan kebohongan? Itulah sikap segelintiran manusia.

Tetapi kita harys bersyukur kerana kita mempunyai Tuhan yang tidak pernah ingkar terhadap apa-apa pun yang dijanjikanNya. "Allah bukanlah manusia, sehingga Dia berdusta bukan anak manusia, sehingga Dia menyesal. Masakan Dia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?" (Bilangan 23:19).

Janji Tuhan untuk memberikan Tanah Perjanjian (Kanaan) kepada bangsa Israel sebagaimana Dia sampaikan kepada Abraham, "Aku akan memberikan negeri ini kepada keturunanmu." (Kejadian 12:7). Walaupun keturunan Abraham berlaku tidak setia, namun Dia tetaplah Tuhan yang setia pada janjiNya; pada saat yang tepat dan digenapiNya.

Bila kita baca dalam Bilangan pasal 34, sempadan Tanah Perjanjian itu disampaikan oleh Tuhan sendiri kepada Musa, "Perintahkanlah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka : Apabila kamu masuk ke negeri Kanaan, maka inilah negeri yang akan jatuh kepadamu sebagai milik pusaka, yakni tanah Kanaan menurut batas-batasnya." (Bilangan 34:2).

Apabila kita dalam kesusahan dan penderitaan, jangan menjadi lemah dan tawar hati. Sebaliknya, tetaplah berfokus kepada janji Tuhan kerana Dia Tuhan yang tidak pernah berubah, dahulu, sekarang dan sampai selama-lamanya. Dia adalah Tuhan yang setia, Dia setia kepada firmanNya dan setia kepada janjiNya. Tuhan hanya menghendaki kita supaya tetap taat, tekun dan setia melakukan semua perintahNya.

Mari kita hidup dalam ketaatan, dan ketika tibanya Tuhan akan melakukan bahagianNya, iaitu menepati janjiNya ke atas kita. Tuhan memberkati!

Selasa, 30 Oktober 2018

Renungan  Petang Selasa, 30 Oktober 2018



Renungan  Petang
Selasa, 30 Oktober 2018

Keinginan Melahirkan Dosa

"Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut."  Yakobus 1:14-15

Tidak ada orang yang jatuh mendadak ke dalam dosa tanpa melalui proses atau peringkat. Dosa masuk ke dalam hidup seseorang tanpa disedari atau disengajakan. Ketika memakan buah larangan, Adam dan Hawa membuat alasan dan menyalahkan orang lain ketika ditanya Tuhan.

"Manusia itu menjawab: 'Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.' Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: 'Apakah yang telah kauperbuat ini?' Jawab perempuan itu: 'Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.'" (Kejadian 3:12-13).

Penyebab dari dosa adalah keinginan-keinginan manusia sendiri, sedangkan Iblis adalah batu api dan suka menpengaruhi manusia. Iblis selalu mencari titik kelemahan seseorang dengan menggunakan keadaan, orang lain, wang atau harta benda untuk mempengaruhi. Ketika godaan dan pengaruh datang, keputusan dan pilihan ada pada diri kita sendiri, apakah kita akan menerima hal-hal yang ditawarkan oleh Iblis tersebut, atau kita bersikap tegas untuk menolaknya.

Kalau kita menerima dan terus memikir-mikirkan apa yang ditawarkan oleh Iblis, maka keinginan-keinginan kita akan menjadi semakin kuat. Akhirnya kita terpengaruh dan terseret untuk memikirkan keinginan-keinginan tersebut dan menghasilkan buah-buah dosa.

Yakobus mengatakan bahawa dosa yang dilakukan secara berulang-ulang akan mengakibatkan maut atau kematian. Juga sukacita menjadi mati, harapan menjadi mati, pintu berkat akan tertutup dan sebagainya. Jalan keluarnya? Kita harus mengatasi godaan sejak dari mula, ketika imajinasi yang salah itu muncul.

"Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka)." (Kolose 3:5-6).

Berjaga-jaga dan berdoa adalah langkah permulaan agar terhindar dari pencubaan, jerat si iblis. Kiranya Tuhan memberkati!

Isnin, 29 Oktober 2018

Renungan Petang Isnin, 29 Oktober 2018



Renungan Petang
Isnin, 29 Oktober 2018

Firman Benih Kehidupan

"Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal." 1 Petrus 1:23

Tahukah anda bahawa di dalam benih yang kecil dan kelihatan kotor itu terdapat sumber kehidupan.  Bermula dari benih yang kelihatannya tak seberapa akan tumbuh akar, batang, cabang, daun, bunga dan buah. Dari buah yang dihasilkan, terjadi tuaian. Supaya boleh bertumbuh dan menghasilkan buah atau tuaian, benih harus terlebih dahulu ditanam di dalam tanah.

Firman Tuhan adalah benih itu. Kekuatan yang terdapat di dalam benih firman Tuhan itu jauh lebih dahsyat dari benih yang kita lihat. Segala sesuatu yang Tuhan lakukan bagi kita bermula dari benih firman Tuhan yang ditanam di dalam hati kita. Pemazmur menulis: "disampaikan-Nya firman-Nya dan disembuhkan-Nya mereka, diluputkan-Nya mereka dari liang kubur." (Mazmur 107:20), dan "Ia berfirman, maka dibangkitkan-Nya angin badai yang meninggikan gelombang-gelombangnya." (Mazmur 107:25).

Ada kuasa di sebalik benih firman Tuhan yang ditaburkan. Persoalaannya adalah apakah tanah hati kita sudah bersedia untuk menerima benih firman Tuhan tersebut? Ramai orang mempunyai kerinduan yang besar untuk dipulihkan hidupnya tetapi mereka tidak memiliki respon hati yang benar terhadap firman Tuhan. Seringkali mereka hanya mendengar firman Tuhan sambil lewa, ibarat tanah yang keras dan penuh dengan semak duri, sehingga benih firman yang ditanam pun tidak kelihatan.

Penulis Amsal menasihatkan, "Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku; janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu. Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka." (Amsal 4:20-22).

Kita harus memerhatikan, mengarahkan telinga dan mata yang tertuju kepada firman Tuhan. "Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid." (Yesaya 50:4b), kerana iman timbul dari pendengaran akan firman-Nya. Benih firman Tuhan yang ditanam dalam tanah hati yang subur akan menghasilkan mukjizat, membawa pemulihan, kemenangan dan kesembuhan.

Kiranya Tuhan memberkati!

Sabtu, 27 Oktober 2018

Renungan Petang Ahad, 28 Oktober 2018




Renungan Petang
Ahad, 28 Oktober 2018

Bertumbuh Dengan Sihat

"Tetapi engkau, beritakanlah apa yang sesuai dengan ajaran yang sehat:" Titus 2:1

Supaya kita bertumbuh dengan sihat dan berkembang dengan baik, tubuh jasmani kita memerlukan makanan yang sihat. Definisi makanan sihat adalah makanan yang memiliki kandungan gizi yang seimbang, atau mengandung serat dan zat-zat yang diperlukan oleh tubuh badan. Menu makanan sihat seharusnya kaya akan unsur zat gizi seperti karbohidrat, protein, mineral, vitamin dan sedikit lemak tak tepu.

Demikian juga manusia secara rohani, kita memerlukan makanan 'rohani' yang menyihatkan. Ada tertulis: "Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." (Matius 4:4). Makanan rohani itu berbentuk firman Tuhan, keintiman (hubungan peribadi dengan Tuhan), melalui kebaktian dan juga ajaran yang sihat.  Jika hal-hal tersebut tidak dipenuhi secara seimbang, maka manusia 'rohani'  kita tidak dapat bertumbuh dengan baik dan sihat.

Sekalipun kita menjadi orang percaya selama bertahun-tahun, jika kita tidak menerima dan mengaplikasi firmanNya, maka kerohanian kita akan terbantut atau rohani kerdil. Ketika hanya mengalami masalah atau kesusahan yang kecil, iman mudah sekali goyah dan langsung berputus asa lalu menyalahkan Tuhan. Tuhan tidak berjanji bahawa hidup ini begitu indah tanpa sebarang masalah tetapi Dia menjanjikan pertolongan, kelepasan dan jalan keluar untuk setiap masalah yang kita alami. Pemazmur menulis : "Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;" (Mazmur 34:20).

Memakan ajaran dan keyakinan yang kurang sihat menyebabkan anda sakit. Apabila anda sakit, bermakna fokus kehidupan kita untuk Tuhan akan terggangu. Kita harus keluar dari tabiat pemakanan yang kurang sempurna dan taat mengikut kehendak Tuhan. Firman atau doktrin diluar kehendakNya menjadi penghalang utama kehidupan kita menuju kedewasaan iman.

Pelajarilah Firman dan aplikasikan di dalam kehidupan sebagai makanan rohani yang menyihatkan setiap masa. Kiranya Tuhan memberkati!

Renungan Petang Sabat, 27 Oktober 2018



Renungan Petang
Sabat, 27 Oktober 2018

Mahkota Kebenaran

"Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya." 2 Timotius 4:8

Rasul Paulus menggambarkan perjalanan hidup orang percaya sebagai sebuah pertandingan, ibarat seorang pelari yang sedang berjuang dalam suatu kejuaraan olahraga untuk memenangi sebuah piala. Perjalanan hidup Paulus sendiri, sebagai hamba Tuhan, merupakan sebuah pertandingan yang sangat mencabar.

Di sepanjang perjalanan hidup Paulus sebagai pemberita Injil, Dia terpaksa menghadapi berbagai-bagai ujian dan cabaran yang begitu besar :  kesukaran, penderitaan, aniaya, bahaya dan ancaman sudah menjadi warna-warni dalam kehidupannya. Namun Paulus mampu menyelesaikan pertandingan sampai ke garis akhir (ayat 7).

Rasul Paulus mengingatkan bahawa penat lelah dalam melayani Tuhan itu tidak pernah menjadi sia-sia, Tuhan selalu melihatnya. "Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan!" (1 Korintus 15:58), dan "Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran." (2 Timotius 4:2).

Ada ramai orang percaya tidak lagi berjuang dalam pertandingan imannya kerana merasa tidak kuat lagi menghadapi ujian dan cabaran. Mereka berputus asa dan berhenti di pertengahan jalan. Mereka tidak lagi peduli dengan perkara-perkara rohani. Yang menjadi fokus kehidupannya adalah perkara-perkara duniawi yang sifatnya hanya sementara. Mereka lupa bahawa ada upah besar disediakan Tuhan bagi orang yang setia sampai akhir garisan penamat.

Garis akhir pertandingan iman adalah akhir hidup kita, jadi teruslah berjuang. Bagi setiap orang yang mampu menyelesaikan pertandingan sampai garis terakhir, Tuhan akan menganugerahkan mahkota kebenaran kepadanya. Kiranya Tuhan memberkati!

Jumaat, 26 Oktober 2018

Renungan Petang Jumaat, 26 Oktober 2018




Renungan Petang
Jumaat, 26 Oktober 2018

Serahkanlah Hidupmu Hanya KepadaNya

"Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah."  Mazmur 55:23

Setiap hari manusia tak dapat menghindari atau lari dari masalah, penderitaan dan kesusahan. Ini adalah sebahagian dari kehidupan manusia. Musa berkata, "Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap." (Mazmur 90:10).

Hal-hal terjadi secara tiba-tiba, tak disangka, tak diduga, peristiwa atau kejadian yang tak pernah diharapkan boleh terjadi seperti bencana, kecederaan, musibah dan bahkan kematian pada bila-bila masa. Inilah realiti hidup manusia yang tak dapat disanggah.

Sebagai manusia biasa seharusnya kita menyedari betapa terhadnya kekuatan dan kemampuan kita.  Seharusnya juga kita bersikap rendah hati di hadapan Tuhan. Orang-orang yang rendah hati selalu merasa miskin di hadapan Tuhan kerana kekuatannya terhad. Ada tertulis: "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga." (Matius 5:3).

Jika menyedari betapa terhadnya kekuatan kita seharusnya kita merasa sangat memerlukan Tuhan dan berserah sepenuhnya kepada-Nya. Orang yang berserah kepada Tuhan pasti berusaha agar hidupnya selaras dengan kehendak-Nya. Jadi, hidup berserah kepada Tuhan itu tidak dapat dipisahkan dari kehidupan yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Ada ramai orang yang hidup dalam ketidaktaatan, hidup menurut kehendak sendiri dan tidak mahu merendahkan diri di hadapan Tuhan tetapi mereka mahu Tuhan untuk menjawab doa-doanya dan memenuhi segala yang diperlukan. Bukankah ini suatu sikap yang tidak baik dan kelihatan seperti mempermain-mainkan Tuhan?

Jika ada di antara kita yang berlaku demikian, hal terbaik yang harus kita lakukan adalah segeralah bertaubat sebelum Tuhan bertindak: "Aku akan menentukan kamu bagi pedang, dan kamu sekalian akan menekuk lutut untuk dibantai! Oleh karena ketika Aku memanggil, kamu tidak menjawab, ketika Aku berbicara, kamu tidak mendengar, tetapi kamu melakukan apa yang jahat di mata-Ku dan lebih menyukai apa yang tidak berkenan kepada-Ku." (Yesaya 65:12).

Percaya dan melakukan kehendak Tuhan adalah bukti orang mempunyai penyerahan diri kepada-Nya. Kiranya Tuhan memberkati!

Rabu, 24 Oktober 2018

Renungan Petang Khamis, 25 Oktober 2018




Renungan Petang
Khamis, 25 Oktober 2018

Menduduki Peperiksaan

"Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan." Yakobus 1:3.

Mungkin ada sesetengah orang tidak berapa suka mendengar perkataan ujian, masalah atau musibah. Umumnya kita lebih suka mendengar kata-kata tentang berkat, mukjizat, kemenangan dan perkara-perkara ajaib kerana hal-hal itulah yang sedang dicari dan diinginkan oleh manusia.

Namun kita lupa bahawa setiap berkat, mukjizat, kemenangan, kesembuhan dan perkara-perkara besar selalu didahului atau diawali dengan ujian, masalah dan juga cabaran yang tidak mudah. Namun apapun di sebalik hal-hal yang tidak menyenangkan inilah terdapat  berkat, mukjizat dan kemenangan besar.

Perkataan 'ujian' memiliki maksud sesuatu yang digunakan untuk menguji kualiti diri, contohnya, kepintaran, kemampuan, pengetahuan dari seseorang dan sebagainya. Oleh itu, di dalam dunia pendidikan ada yang namanya peperiksaan iaitu, ujian untuk menentukan kenaikan tingkat atau kelulusan seseorang pelajar.

Bagi seorang pelajar atau siswa, ujian adalah sesuatu yang tidak menyenangkan dan membuatkan kita berasa berdebar-debar tetapi sangat diperlukan, sebab di sebalik ujian pasti ada hasilnya. Entah kita lulus atau bagaimana?

Dan untuk mendapatkan keputusan yang cemerlang, yang sesuai dengan harapan, cita-cita dan keinginan, setiap pelajar pasti akan mempersiapkan diri sedemikian rupa. Ada yang rajin mengikuti kelas tambahan, ulangkaji berkala, mengikuti bimbingan belajar atau memanggil guru pakar motivasi dan sebagainya.

Orang yang mampu menghadapi ujian dengan baik pasti mendapat hasil yang baik pula. Sebaliknya, bagi mereka yang tidak mempersiapkan diri dengan baik dari awal, yang hanya bertungkus lumus belajar dan ulangkaji di saat menjelang ujian, yang mungkin akan mendapatkan keputusan yang pasti tidak menyenangkan, mengecewakan dan mungkin akan gagal.

Jadi sebelum menghadapi ujian perlu sekali kita menguji diri sendiri terlebih dahulu, maksudnya mengukur atau menilai sejauh mana persediaan kita dalam menghadapi ujian di akhir zaman ini. Mungkin secara mental atau fizikal kita sudah bersedia  tetapi ketika kita diuji ternyata banyak benda yang belum kita ketahui.

Atau sebaliknya kita sudah tahu sesuatu perkara itu akan terjadi tetapi ketika ujian muncul, ternyata kita secara mental dan rohani belum bersedia, mungkin merasa  panik, was-was, bimbang dan takut. "Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik." 1 Tesalonika 5:21.

Tuhan memberkati.